ASIAWORLDVIEW – Beberapa makanan Amerika Latin yang masuk ke Indonesia memang telah mengalami adaptasi agar sesuai dengan selera lokal. Proses ini sering kali melibatkan perubahan bahan, tingkat kepedasan, atau cara penyajian agar lebih diterima oleh masyarakat Indonesia.
CasaLeña, misalnya, restoran dengan konsep Latin American Grill yang berlokasi di Hang Lekir, Jakarta Selatan, menyajikannya dengan khas lokal. Dirancang oleh arsitek ternama Andra Matin, restoran ini menggabungkan estetika modern minimalis dengan sentuhan alami, menciptakan suasana yang nyaman dan elegan.
Executive Chef Silverio Martinez, asli Meksiko menjelaskan, kuliner Indonesia dan Amerika Latin terpengaruh dengan rempah-rempah.
“Orang Indonesia memang cenderung menyukai rasa gurih dalam makanan. Gurih sering kali berasal dari penggunaan rempah-rempah, santan, kaldu, dan bumbu khas yang kaya rasa,” ia mengatakan.
Baca Juga: Casalena Rayakan Cinco de Mayo, Sajikan Jajanan Khas Amerika Latin
Makanan Indonesia dan Amerika Latin memiliki kesamaan, baik dari segi bahan maupun cara penyajian. Hal ini terjadi karena kesamaan iklim dan bahan makanan yang tersedia di kedua wilayah.
“Adaptasi ini menunjukkan bagaimana kuliner dari Amerika Latin dunia bisa berbaur dengan budaya lokal,” ia menambahkan.
Empanada, misalnya, mirip dengan pastel Indonesia. Pastry berisi daging atau sayuran yang bisa digoreng atau dipanggang.
Jika bumbu makanan Amerika Latin sulit ditemukan di Indonesia, biasanya memiliki alternatif yang tersedia di Indonesia.
Misalnya, Achiote (Annatto) bisa diganti dengan kunyit untuk warna dan sedikit rasa pahit. Selain itu, epazote → Bisa diganti dengan daun pepaya atau kemangi untuk aroma khas.
Chipotle Bisa diganti dengan cabai merah kering yang diasapkan atau cabai bubuk. Bumbu khas Amerika Latin bisa dibuat sendiri dengan bahan yang tersedia.
