ASIAWORLDVIEW – Penjualan hewan kurban pada Idul Adha 2026 mengalami penurunan. Hal itu diakibatkan adanya tekanan signifikan pada daya beli.
Polling yang dilakukan pada pertengahan Mei 2026 menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai situasi ekonomi tidak baik-baik saja, dengan keluhan utama meliputi melemahnya daya beli, sulitnya mendapatkan pekerjaan, dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Mengutip dari berbagai sumber, Rabu (27/5/2026), para pengamat ekonomi melihat adanya jurang antara data pertumbuhan makro dengan realitas yang dirasakan masyarakat. Meskipun ekonomi tumbuh, pendapatan warga dinilai tidak mampu mengejar laju kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Kondisi ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.800 per dolar AS pada akhir Mei 2026, yang berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa akibat ketergantungan Indonesia terhadap impor. Akibatnya, meskipun inflasi umum terkendali, tekanan ekonomi seperti kenaikan harga pangan dan biaya hidup terus dirasakan.
Baca Juga: Rupiah Rp17.833 per USD, Jadi Mata Uang Paling Lemah di Asia
Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memproyeksikan potensi ekonomi kurban nasional pada 2026 mencapai Rp26,89 triliun. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2025 yang mencapai Rp27,10 triliun. Penurunan ini terjadi karena berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban, dari sekitar 1,91 juta rumah tangga di 2025 menjadi sekitar 1,90 juta rumah tangga di 2026. Total hewan kurban diperkirakan mencapai 1,59 juta ekor, yang terdiri dari sekitar 493 ribu ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing atau domba.
Perubahan paling signifikan adalah pergeseran preferensi konsumen. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat tetap berusaha mempertahankan ibadah kurban, namun mereka cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau. Hal ini tercermin dari menurunnya preferensi terhadap hewan berbobot besar. IDEAS mencatat, jumlah sapi kurban diperkirakan turun sekitar 10,17 ribu ekor dan kambing/domba turun sekitar 3,43 ribu ekor dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, permintaan terhadap kambing dan domba dengan bobot lebih kecil, seperti 40 kg dan 20 kg, justru meningkat.
Laporan dari lapangan mengonfirmasi data proyeksi tersebut. Sejumlah pedagang hewan kurban mengeluhkan penurunan penjualan yang drastis, hingga 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Seorang pedagang di Jakarta Timur mengaku hanya mampu menjual 16 ekor kambing di H-1 Iduladha, padahal tahun sebelumnya bisa menjual hingga 40 ekor di periode yang sama. Untuk menyesuaikan dengan kondisi ekonomi, para pedagang hanya menyediakan hewan dengan berat yang cenderung ringan dan harga yang lebih murah, di kisaran Rp3 juta hingga Rp3,8 juta. Pedagang lainnya juga menyebutkan bahwa mayoritas pembeli lebih memilih kambing dengan harga Rp3 juta hingga Rp4 juta.
Meskipun permintaan melemah, harga hewan kurban secara umum tetap mengalami kenaikan. Kenaikan harga dipengaruhi oleh faktor ketersediaan hewan, cuaca panas, serta keterbatasan pakan di daerah asal ternak. Rata-rata, harga sapi kurban mengalami kenaikan sekitar Rp2 juta per ekor, dengan kisaran harga berada di atas Rp20 juta hingga Rp30 juta. Sementara itu, harga kambing kurban berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp5 juta per ekor, tergantung ukuran dan jenis.
Potensi ekonomi yang besar ini belum terkelola dengan baik. INDEF mencatat masih terjadi ketimpangan ekstrem dalam distribusi ekonomi kurban, di mana surplus menumpuk di Pulau Jawa sebesar Rp21,42 triliun atau 79,67% dari total pangsa nasional. Sebaliknya, wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Maluku masih mengalami defisit protein dengan distribusi yang sangat kecil (masing-masing hanya 0,41% dan 0,10%)
