Rupiah Sentuh Rekor Terlemah Rp17.740 per Dolar AS

Mata uang Rupiah dan Dolar AS.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan luar biasa pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Rupiah berada di level Rp17.740 per dolar AS, melemah 72 poin atau 0,41% setelah sebelumnya dibuka di level Rp17.685. Sementara itu, kurs transaksi Bank Indonesia menunjukkan kurs jual USD di Rp17.754,33 dan kurs beli di Rp17.577,67 per dolar AS.

Selama sepekan terakhir, nilai tukar USD/IDR tercatat naik dengan rentang pergerakan 52 minggu berada di kisaran Rp16.085 hingga Rp17.719,1 per dolar AS. Rupiah yang menyentuh level Rp17.728 merupakan level terendah sepanjang masa, suatu rekor terlemah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 Rupiah sudah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia setelah rupee India, mengutip Bloomberg.

Dampak paling langsung dan terasa oleh masyarakat adalah kenaikan harga barang. Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor. Kondisi ini membuat tekanan kurs berpotensi memicu kenaikan harga di berbagai sektor dan memperluas inflasi.

Tingginya kandungan impor pada industri dalam negeri menjadi titik rawan utama, karena sebagian besar industri masih bergantung pada barang setengah jadi impor atau intermediate goods. Ketika biaya impor naik akibat pelemahan rupiah, kenaikan tersebut akan diteruskan ke sektor hilir melalui rantai pasok nasional.

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Prabowo Yakini Ekonomi Kokoh

Berdasarkan data, intensitas impor pada komoditas tepung terigu, pati, dan produk pati mencapai 63%, sementara sektor barang logam memiliki intensitas impor 29%, dan industri manufaktur, plastik, karet, serta serat buatan sekitar 23%. Kondisi ini membuat dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan oleh sektor tertentu, tetapi menyebar ke banyak lini ekonomi.

Berdasarkan simulasi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, kombinasi depresiasi rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi diperkirakan mendorong kenaikan harga di 185 sektor ekonomi. Sektor konstruksi diproyeksikan mengalami kenaikan harga hingga 3,56%, sektor penyediaan makanan dan minuman naik 3,47%, sementara industri pakaian jadi berpotensi meningkat 3,35%.

Lebih mengkhawatirkan lagi, pelaku usaha dinilai berpotensi menaikkan harga lebih tinggi dari kenaikan biaya riil di lapangan karena ekspektasi inflasi yang terbentuk di masyarakat. Akibatnya, tekanan inflasi dapat menjadi lebih luas dibandingkan perhitungan ekonomi awal. Para ekonom memperkirakan bahwa depresiasi rupiah sebesar 10% dapat menaikkan inflasi sekitar 1,5 hingga 2,5 poin persentase dalam beberapa kuartal mendatang.

Pelemahan rupiah juga mengancam lapangan kerja. Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menyatakan bahwa pelemahan rupiah telah menjadi alarm serius bagi perekonomian nasional. Ketika biaya produksi industri membengkak akibat mahalnya bahan baku impor, banyak perusahaan terpaksa melakukan efisiensi yang berujung pada pemutusan hubungan kerja.

KSPSI mencatat bahwa Indonesia masih terlalu bergantung pada impor pangan maupun kebutuhan industri, sehingga ketika kurs rupiah melemah, biaya impor ikut meningkat, harga kebutuhan pokok naik, biaya produksi industri membesar, dan daya beli masyarakat tertekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *