ASIAWORLDVIEW – Kecemasan kembali ke sekolah sering terjadi setelah keluarga menghabiskan waktu bersama di rumah selama liburan sekolah. Waktu libur dapat menyebabkan transisi mendadak, yang mengakibatkan perasaan kecewa dan “pasca-liburan” pada anak-anak.
Anak-anak dan remaja, berbeda dengan orang dewasa, lebih cenderung mengekspresikan perasaan dan emosi mereka melalui perilaku daripada kata-kata, seperti menjadi lebih mudah marah, menghabiskan lebih banyak waktu sendirian, dan tidak ingin pergi ke sekolah.
Menyiapkan mental anak sebelum kembali ke sekolah merupakan langkah penting yang sering kali menentukan bagaimana mereka menjalani masa transisi dari suasana liburan menuju rutinitas belajar yang lebih terstruktur. Setelah jeda panjang, anak biasanya mengalami perubahan signifikan pada pola tidur, kebiasaan harian, serta kondisi emosional, Asiaworldview mengutip Psychology Today, Minggu (4/1/2026).
Baca Juga: Sekolah Rakyat di Malang Sudah Dimanfaatkan, Menteri Pekerjaan Umum Tinjau Langsung Fasilitasnya
Orang tua dapat memulai dengan membangun komunikasi yang terbuka dan hangat, mengajak anak berbicara tentang perasaannya menjelang masuk sekolah. Anak perlu merasa bahwa kekhawatiran, rasa takut, atau ketidaksiapan yang mereka rasakan adalah hal yang wajar dan boleh diungkapkan. Dengan didengarkan tanpa dihakimi, anak akan merasa lebih aman secara emosional dan lebih percaya diri untuk menghadapi perubahan yang ada.
Selain itu, membicarakan hal-hal positif tentang sekolah dapat membantu membentuk kembali persepsi anak. Orang tua dapat mengingatkan anak tentang teman-teman yang akan ditemui, kegiatan menyenangkan di kelas, atau pencapaian kecil yang pernah mereka raih sebelumnya. Pendekatan ini membantu menggeser fokus anak dari rasa cemas menuju antisipasi yang lebih positif. Namun, penting juga untuk tetap realistis dan tidak mengabaikan tantangan yang mungkin dihadapi, agar anak merasa dipahami, bukan ditekan
Orang tua harus dihadapkan dengan periode adaptasi saat anak-anak menyesuaikan diri dengan jadwal tidur sekolah. Namun, dalam beberapa minggu, mereka seharusnya sudah terbiasa dengan rutinitas baru. Jika mereka belum menyesuaikan diri, itu bisa menjadi tanda masalah yang lebih besar.
Anak-anak yang cemas sebaiknya mengonsumsi protein, sayuran, dan buah utuh untuk menutrisi tubuh mereka. Mengonsumsi makanan yang salah saat stres hanya memperburuk gejala negatif dan memperpanjang siklus stres yang tidak sehat.
Jam tidur yang lebih larut, aktivitas yang lebih bebas, dan minimnya tuntutan akademik dapat membuat anak merasa kaget ketika harus kembali bangun pagi, mengikuti jadwal pelajaran, serta menghadapi aturan dan tanggung jawab di sekolah. Tanpa persiapan mental yang memadai, kondisi ini berpotensi menimbulkan stres, kecemasan, bahkan penolakan terhadap sekolah.
