ASIAWORLDVIEW – Angka kematian Ibu hamil di Indonesia tercatat 189 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup dan 17 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup (Data Sensus Penduduk 2020). Meskipun angka-angka ini telah membaik selama satu dekade terakhir, angka tersebut tetap termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara dan masih jauh dari target nasional yang ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Banyak dari kematian ini dapat dicegah, dan seringkali disebabkan oleh kondisi yang tidak terdeteksi di awal kehamilan.
Kondisi yang sering tidak terdeteksi di awal kehamilan adalah kehamilan kosong (blighted ovum) atau janin tidak berkembang. Hal itu karena gejalanya mirip dengan kehamilan normal dan baru terlihat jelas melalui pemeriksaan USG.
“Seorang ibu mungkin merasa sehat sementara kadar hemoglobin darah, tekanan darah atau gula darahnya sudah tidak normal. Beberapa kondisi seperti anemia, preeklampsia, diabetes gestasional, gangguan tiroid, jarang menyebabkan ketidaknyamanan pada awalnya,” kata Prof. Dr. dr. Maisuri Tadjuddin Chalid, SpOG, SubSp. KFM, dikutip Asiaworldview, Senin (22/12/2025).
Baca Juga: Riset: 76% Populasi Dunia Kekurangan Asupan Omega-3
Pada trimester pertama, ada beberapa kondisi yang sulit dikenali tanpa pemeriksaan medis, salah satunya adalah blighted ovum atau kehamilan anembrionik, yaitu ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di rahim tetapi embrio tidak berkembang. Kondisi ini termasuk dalam kategori early pregnancy loss dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang berbeda dari kehamilan normal, sehingga ibu tetap merasakan tanda-tanda seperti mual, lelah, atau perubahan hormon.
Keterlambatan dalam mengenali tanda-tanda dini merupakan tantangan besar dalam pelayanan kesehatan ibu hamil. Komplikasi kerap muncul tiba-tiba, dari kondisi yang sebelumnya tampak normal. Kita tidak boleh menunggu hingga gejala terlihat; diperlukan upaya deteksi dini, oleh karena itu pemeriksaan kehamilan sebaiknya dimulai sejak trimester 1, dan selanjutnya dipantau secara rutin dan berkualitas.
“Rasa aman yang semu ini berbahaya, karena pada saat gejala muncul, jendela untuk intervensi yang efektif sudah menyempit,” ia menambahkan.
Selain itu, banyak tanda awal kehamilan seperti perubahan mood, rasa pegal, atau pola tidur yang berbeda juga kerap luput dari perhatian karena dianggap mirip dengan gejala menstruasi. Pemeriksaan kehamilan sejak dini dengan USG dan tes laboratorium sangat penting untuk mendeteksi kondisi yang tidak terlihat secara kasat mata.
“Perubahan apa pun di akhir kehamilan, bahkan sesuatu yang kecil sekalipun, perlu diperhatikan. Tindakan dini menyelamatkan nyawa,” pungkasnya.
Kondisi janin berkembang sesuai usia kehamilan. Deteksi dini membantu ibu mendapatkan penanganan tepat dan mencegah risiko komplikasi yang lebih serius.
“Deteksi dini adalah salah satu alat paling ampuh yang kita miliki,” kata Conan Chen, General Manager Mindray Indonesia. “Misi kami adalah memberikan jawaban yang lebih jelas kepada para klinisi lebih awal, sehingga mereka dapat mencegah komplikasi sebelum memburuk. Mendukung para profesional kesehatan dalam melindungi setiap kehamilan adalah, dan akan selalu menjadi, inti dari pekerjaan Mindray.”
