Rupiah Melemah, Sentimen Global Dominasi Pasar

Tumpukan uang Dolar AS dan Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah, Selasa (11/8/2026), mengakhiri tren penguatan yang berlangsung selama empat hari berturut-turut. Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah dibuka di zona merah dengan pelemahan yang bervariasi, berkisar antara 0,17% hingga 0,37%.

Pada pembukaan pasar, rupiah terdepresiasi ke level Rp17.780 per dolar AS (melemah 0,17%), atau lebih dalam lagi ke Rp17.795 (melemah 40 poin atau 0,23%), dan bahkan sempat menyentuh Rp17.797 (melemah 0,24%). Data dari Medcom.id mencatat pelemahan yang lebih tajam, di mana rupiah berada di level Rp17.800,6 per dolar AS, melemah 64,8 poin atau 0,37%. Pelemahan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan Senin (10/8) lalu, rupiah ditutup menguat 0,75% ke level Rp17.755 per dolar AS.

Pelemahan rupiah pada hari ini terutama dipicu oleh faktor eksternal, khususnya kebijakan moneter dan dinamika geopolitik global. Harapan akan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz mulai pudar setelah AS dan Iran saling mengajukan tuntutan kompensasi. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak lebih dari 4%, yang kembali memunculkan kekhawatiran akan tekanan inflasi di AS. Akibatnya, pelaku pasar kembali berbondong-bondong memburu dolar AS sebagai aset aman menjelang pengumuman data inflasi konsumen AS pekan depan.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Meskipun ruang penguatan dolar masih dibatasi oleh data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September justru naik menjadi 52%, dari sebelumnya 67% pada pekan lalu. Sinyal hawkish ini turut menekan rupiah.

Dari dalam negeri, pasar masih mencermati proses suksesi kepemimpinan Bank Indonesia (BI). Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat kepada DPR terkait pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI untuk menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri. Meskipun pengajuan calon tunggal ini memberikan kepastian arah kebijakan moneter ke depan, sentimen positif tersebut belum cukup untuk menahan tekanan pelemahan rupiah di tengah kuatnya dolar AS.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah mencerminkan kombinasi tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter AS yang masih ketat, ketidakpastian geopolitik yang kembali memanas, dan dinamika internal proses transisi kepemimpinan BI. Analis memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan potensi penutupan menguat di rentang Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS, namun sentimen global masih akan menjadi faktor penentu utama pergerakannya dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *