Rupiah Perkasa ke Rp17.810, Terkuat di Asia Pagi Ini

Teller bank menunjukkan uang Rupiah dengan berbagai pecahan.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil membukukan penguatan yang cukup signifikan hari ini, Senin (10/8/2026). Di pembukaan pasar spot, rupiah langsung melesat 0,49% ke level Rp 17.810 per dolar AS.

Pergerakan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan penguatan terkuat di antara mata uang Asia pada pagi hari. Meskipun sempat ada catatan dari beberapa sumber lain yang menyebutkan level berbeda, seperti Rp 17.800 di awal pembukaan atau Rp 17.816 di sesi lainnya, angka Rp 17.810 menjadi posisi yang paling banyak dirujuk dan dianggap sebagai penutupan yang representatif.

Penguatan rupiah ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari eksternal dan internal. Sentimen yang paling dominan datang dari melemahnya dolar AS, terutama setelah rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls – NFP) yang jauh di bawah ekspektasi.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Pasar kini melihat peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September hanya sekitar 44%, turun drastis dari 67% pekan sebelumnya. Pelemahan dolar ini otomatis menjadi angin segar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, penguatan rupiah juga disokong oleh data cadangan devisa (cadev) Indonesia yang tetap solid. Bank Indonesia melaporkan posisi cadev pada akhir Juli 2026 sebesar 145,3 miliar dolar AS, yang masih setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Stabilitas cadev ini memberikan rasa aman bagi investor dan menjadi salah satu pilar kekuatan rupiah. Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data PDB Indonesia kuartal II-2026 yang melampaui ekspektasi juga turut menopang apresiasi rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *