ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai pekan dengan langkah positif pada Senin (10/8/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), dibuka menguat 30,95 poin atau 0,48% ke level 6.440,60. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari akhir pekan lalu, ditutup di level 6.409,65.
Pada sesi pembukaan, indeks bergerak di rentang 6.439 hingga 6.454. Nilai transaksi mencapai Rp156,53 miliar dari volume 294,43 juta saham dalam 39.304 kali transaksi. Kondisi ini didorong oleh optimisme terhadap arah kebijakan moneter global yang cenderung “dovish” atau melonggar. Sentimen ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang jauh di bawah ekspektasi.
Data Non-Farm Payrolls (NFP) Juli 2026 mencatatkan pengurangan 23.000 lapangan kerja, di luar dugaan pasar. Data ini meningkatkan ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, yang menjadi katalis positif bagi aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Peluang The Fed untuk menahan suku bunga pada pertemuan September 2026 pun naik menjadi 60,4% dari sebelumnya 43,2%.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Selain itu, penguatan IHSG juga didukung oleh kinerja ekonomi domestik yang solid. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 yang tercatat sebesar 5,29% atau di atas ekspektasi pasar turut menjaga kepercayaan investor. Sentimen positif ini semakin diperkuat oleh aliran modal asing yang mulai kembali masuk. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp917,4 miliar di pasar reguler pada akhir pekan lalu, dengan total net buy di seluruh pasar mencapai Rp1,24 triliun. Hal ini mengindikasikan mulai berubahnya arah pasar saham Indonesia setelah sebelumnya dihantam arus keluar asing sejak awal tahun.
Pada awal perdagangan, sebanyak 340 saham menguat, 110 saham melemah, dan 232 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sekitar Rp11,2 triliun. Sektor-sektor yang menjadi lokomotif penguatan antara lain, sektor Bahan Baku dan Infrastruktur
Pekan ini menjadi pekan yang padat bagi pasar keuangan Indonesia. Perhatian utama pelaku pasar tertuju pada rilis data inflasi AS (CPI), harga produsen (PPI), dan penjualan ritel yang dapat mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Dari dalam negeri, Bank Indonesia akan merilis hasil Survei Konsumen Juli dan Survei Penjualan Eceran Juni. Puncaknya adalah pada Jumat pekan ini, di mana Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Pidato Kenegaraan serta Nota Keuangan dan RAPBN 2026.
IHSG diproyeksikan masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan level support di 6.344 dan resistance di 6.472. Reliance Sekuritas menilai candle IHSG masih menunjukkan pola bullish, dengan posisi indeks berada di atas MA5 dan MA20 serta indikator MACD yang menunjukkan golden cross. Dengan jarak hanya sekitar 40 poin dari level resistance penting 6.450, pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan apakah indeks mampu menembus level psikologis 6.500 atau akan mengalami koreksi profit taking.

