ASIAWORLDVIEW – Eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali membuat harga minyal melonjak. Secara instan menyulut kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan yang parah, mendorong aksi beli spekulatif di tengah sentimen pasar yang diliputi ketidakpastian.
Tensi yang semakin memanas di pasar energi global telah memicu respons yang kuat dari para pelaku industri. Hal ini tercermin dari lonjakan harga minyak mentah sebesar 4,48% yang menempatkannya pada level USD82,49 per barel, mengutip Reuters, Senin (20/7/202).
Pergerakan harga yang signifikan ini merupakan konsekuensi langsung dari penutupan Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global melintasi perairan sempit ini setiap harinya.
Para analis memperingatkan bahwa jika blokade berlanjut, dunia akan menghadapi potensi kekurangan pasokan yang dapat mendorong harga minyak menembus level tertinggi baru, sementara konsumen di berbagai negara sudah mulai merasakan dampaknya dari kenaikan harga bahan bakar di stasiun pengisian umum, yang pada gilirannya berpotensi memperkuat tekanan inflasi dan memperlambat pemulihan ekonomi global yang masih rapuh.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Tarif Tak Akan Naik, Pemerintah Fokus Perluasan Basis Pajak
Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent naik USD2,69, atau 4%, menjadi USD90,79 per barel, level tertinggi sejak 11 Juni. Harga acuan ini melanjutkan kenaikan yang terjadi pekan lalu, di mana harganya naik 15,9%. Kenaikan mingguan terbesar sejak April.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD2,19, atau 2,65%, menjadi USD84,68 per barel, level tertinggi sejak 12 Juni. WTI telah naik 15,5% pekan lalu, menandai kenaikan mingguan terkuatnya sejak awal Maret.
Iran menyatakan gencatan senjata dengan Amerika Serikat telah efektif runtuh, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pengiriman energi melalui Selat Hormuz.
AS melancarkan serangan udara terhadap Iran untuk malam kesembilan berturut-turut, dengan menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer yang diduga digunakan untuk menyerang kapal komersial dan pelaut sipil, menurut Komando Pusat AS. Sementara itu, Kuwait menyatakan telah mencegat serangan drone Iran.
Angkatan Laut Iran dilaporkan oleh Bloomberg mengatakan bahwa mereka menghentikan empat kapal tak dikenal yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui “rute yang tidak aman” setelah kapal-kapal tersebut mengabaikan peringatan berulang kali. Dua kapal dilaporkan mengalami kerusakan akibat kecelakaan, sementara dua kapal lainnya berbalik arah.
Terpisah, UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan bahwa otoritas militer telah melaporkan adanya kapal yang terbakar di barat laut Kumzar, Oman, meskipun penyebab insiden tersebut belum dikonfirmasi, menurut Bloomberg.
Selama seminggu terakhir, eskalasi pertukaran serangan antara Iran dan AS telah meluas melampaui lokasi-lokasi militer hingga mencakup infrastruktur seperti jembatan, utilitas, dan fasilitas pelabuhan, sehingga memudarkan harapan akan kembalinya gencatan senjata yang rapuh. Kuwait Petroleum Corp. menyatakan bahwa serangan Iran pada hari Sabtu menyebabkan kerusakan signifikan pada salah satu fasilitas minyaknya.
Konflik yang semakin memburuk ini telah meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global. Menurut JPMorgan Chase & Co., persediaan minyak global di luar Tiongkok berada pada level terendah sepanjang sejarah, sehingga pasar hanya memiliki cadangan yang sangat terbatas untuk menghadapi guncangan pasokan apa pun.

