ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Rabu (12/8/2026), menunjukkan pergerakan yang fluktuatif di tengah beragam sentimen global dan domestik yang mempengaruhi pasar. Di awal sesi, rupiah sempat mencatatkan penguatan, namun tekanan jual yang berlanjut membuat mata uang Garuda berbalik melemah.
Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka dengan posisi yang bervariasi tergantung sumber data, berkisar di level Rp17.848 hingga Rp17.872 per dolar AS. Penguatan awal ini terjadi setelah rupiah ditutup melemah signifikan 0,60% ke level Rp17.861 pada hari sebelumnya.
Namun, momentum penguatan tidak bertahan lama. Hingga pukul 09.00 WIB, mayoritas mata uang di Asia justru melemah, dan rupiah pun ikut tertekan. Data dari Bloomberg menunjukkan rupiah melemah 7 poin atau 0,04% ke level Rp17.868 per dolar AS, sementara sumber lain mencatat pelemahan ke posisi Rp17.869. Bahkan, hingga pukul 09.08 WIB, rupiah sempat menyentuh level Rp17.874.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Pelemahan rupiah pada hari ini terutama didorong oleh beberapa faktor eksternal dan internal. Sikap Hati-hati Menjelang Data Inflasi AS: Pelaku pasar mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi konsumen AS (CPI) untuk bulan Juli yang dijadwalkan pada Rabu malam. Data ini akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan, sehingga menciptakan ketidakpastian di pasar.
Ketidakpastian di Timur Tengah, khususnya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, masih membayangi pasar. Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi, sementara di sisi lain proses menuju kesepakatan damai masih menunjukkan perkembangan yang beragam. Lonjakan harga minyak akibat konflik ini meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong penguatan dolar AS.
Investor domestik juga mencermati pengumuman MSCI August 2026 Index Review yang dijadwalkan pada hari yang sama. Hasil peninjauan ini sangat dinantikan karena dapat mempengaruhi bobot saham Indonesia di indeks global serta aliran dana asing.
Penjualan eceran Indonesia masih terkontraksi 3% secara tahunan pada Juni 2026 dan telah mencatat penurunan selama tiga bulan berturut-turut, menjadi sentimen yang membatasi pergerakan rupiah. Meskipun demikian, tekanan dari data ini tertahan oleh perbaikan secara bulanan.
