ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai pekan dengan langkah positif, Selasa (4/8/2026), berhasil rebound setelah sehari sebelumnya ditutup melemah tipis. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka menguat 20,28 poin atau 0,33% ke level 6.254,78. Penguatan ini berlanjut pada sesi awal perdagangan, di mana IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.264,26 dan bergerak di zona hijau dengan kenaikan hingga 0,41%. Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga turut menguat, naik 2,27 poin atau 0,36% ke posisi 626,20.
Penguatan IHSG pada hari ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari dalam dan luar negeri yang mulai membaik. Dari sisi global, bursa saham Asia mengikuti reli Wall Street setelah harga minyak dunia turun lebih dari 4% seiring dengan harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran akan dimulai pekan ini, yang meredakan kekhawatiran akan eskalasi konflik. Sentimen ini turut mendorong pelemahan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sehingga berpotensi menopang aliran dana ke aset negara berkembang.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Dari dalam negeri, sejumlah kabar ekonomi makro juga memberikan angin segar bagi pasar. Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur naik ke 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni, menandai level tertinggi sejak Februari 2026.
Inflasi juga menunjukkan perbaikan dengan terjadi deflasi bulanan sebesar 0,14%, sehingga inflasi tahunan turun menjadi 2,88% dari sebelumnya 3,34%. Kinerja sektor perbankan tetap solid dengan pertumbuhan kredit mencapai 12,67% secara tahunan hingga Juni 2026. Namun, sentimen positif tersebut masih dibayangi oleh data neraca perdagangan yang kembali mencatat defisit sebesar USD450 juta pada Juni 2026, memperpanjang defisit selama dua bulan berturut-turut. Meski defisit ini lebih rendah dibandingkan defisit Mei yang mencapai USD1,61 miliar, peningkatan impor yang tumbuh lebih cepat dibanding ekspor tetap menjadi perhatian investor.
Dari sisi sektoral, pergerakan indeks menunjukkan hasil yang beragam. Sembilan sektor tercatat menguat, dengan tiga sektor yang mencatat kenaikan terbesar, yaitu sektor barang baku (IDX Basic) yang naik 1,00% dan sektor properti (IDX Property) yang menguat 0,70%. Sementara itu, di antara saham-saham LQ45, penguatan terbesar dicatat oleh saham-saham energi dan tambang, seperti PT Indika Energy Tbk (INDY) yang naik 3,42% dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang menguat 3,31%. Namun, di sisi lain, beberapa saham justru mengalami pelemahan, dengan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) turun 1,85% dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terkoreksi 1,09%. Volume perdagangan terpantau cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp14,31 triliun.
Para analis memproyeksikan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan. Tim Analis Phintraco Sekuritas memprakirakan IHSG berpotensi menguji resistansi di level 6.250-6.300. Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menambahkan bahwa jika IHSG mampu bertahan di atas level support 6.138, koreksi yang terjadi diperkirakan hanya bersifat minor sehingga tren penguatan masih berpeluang berlanjut menuju level resistance berikutnya di 6.392.
Level support IHSG diperkirakan berada di 6.138, 6.020, dan 5.887, sementara level resistance di 6.291, 6.392, dan 6.545. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati lanjutan musim laporan keuangan emiten semester I 2026, perkembangan negosiasi AS-Iran, serta rilis data JOLTS Job Openings Amerika Serikat untuk mencari petunjuk terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

