ASIAWORLDVIEW – Pasar aset kripto dalam negeri terus mencermati setiap gerak-gerik kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Kondisi ini menyusul keputusan bank sentral tersebut untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75% dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 29 Juli 2026.
Keputusan ini merupakan penahanan suku bunga untuk kelima kalinya secara berturut-turut tanpa perubahan. Meskipun keputusan tersebut lolos dengan suara 9 banding 3, namun tiga pejabat The Fed justru menyatakan dissent atau ketidaksetujuan, dan menginginkan suku bunga dinaikkan, sebuah sinyal hawkish yang cukup mengejutkan pasar. Dampak dari keputusan The Fed tersebut terhadap pasar kripto, khususnya Bitcoin, tergolong terbatas dan relatif stabil.
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, mengatakan kecenderungan Bitcoin untuk bertahan setelah pengumuman hasil FOMC mencerminkan bahwa keputusan The Fed telah sesuai dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar. Di pasar domestik, harga Bitcoin di platform Indodax masih bertahan di kisaran Rp1.150.000.000 hingga Rp1.172.000.000 sejak pengumuman hasil rapat FOMC hingga akhir pekan.
Baca Juga: Altcoin Melemah, Ethereum Justru Berhasil Bertahan
Sementara itu, secara global, Bitcoin bergerak pada rentang harga USD62.226 hingga USD64.020 per 4 Agustus 2026, dengan harga terakhir di kisaran USD63.400, naik sekitar 0,49% dalam 24 jam terakhir.
Menurut Aloysia, ketika hasil FOMC sesuai dengan ekspektasi, ruang bagi volatilitas akibat kejutan kebijakan cenderung berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa sentimen pasar tidak terbentuk dari satu indikator tunggal, melainkan dari kombinasi berbagai faktor. Pasar saat ini tidak hanya memperhatikan keputusan suku bunga yang bertahan, tetapi juga mencermati keseluruhan pesan yang disampaikan bank sentral, termasuk pandangan para pembuat kebijakan terhadap prospek ekonomi ke depan.
Kebijakan suku bunga The Fed memiliki pengaruh yang luas terhadap pasar keuangan global karena memengaruhi likuiditas, biaya pendanaan, serta preferensi investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Setiap perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat umumnya turut memengaruhi pergerakan berbagai kelas aset, termasuk pergerakan Bitcoin. Namun, sebagaimana ditegaskan Aloysia, pergerakan pasar tidak ditentukan oleh satu faktor saja.
Meskipun harga Bitcoin bertahan, sentimen pasar secara keseluruhan masih berada dalam zona kehati-hatian. Indeks Fear and Greed untuk Bitcoin tercatat di level 33 (Fear), dan pasar masih dalam fase konsolidasi. Bitcoin masih diperdagangkan jauh di bawah rekor tertingginya di USD126.198, sehingga ruang pemulihan masih terbuka apabila sentimen pasar terus membaik. Namun, tekanan jangka pendek masih terasa.
Dalam menghadapi kondisi pasar yang masih dinamis, Aloysia mengingatkan para investor untuk tetap disiplin menjalankan strategi investasi dan tidak terpaku pada fluktuasi harga dalam jangka pendek. Investor juga dapat mempertimbangkan pendekatan investasi yang lebih teratur, seperti Dollar Cost Averaging (DCA)—berinvestasi secara rutin dan berkala dengan nominal tetap—yang dapat membantu mengurangi risiko melakukan pembelian pada satu titik harga tertentu (market timing) dan menjadi salah satu pendekatan untuk meredam volatilitas pasar dalam jangka panjang.
