Rupiah Kembali Tertekan ke Rp17.979, Investor Beralih ke Aset Aman

Nilai Tukar Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026), melanjutkan tren depresiasi yang sudah berlangsung sejak awal pekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,25% atau 44 poin ke posisi Rp17.980 per dolar AS. Sementara itu, mengutip Antara News, rupiah melemah 43 poin atau 0,24% ke level Rp17.979 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.936.

Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS sebesar 0,3% ke level 101,46—tertinggi dalam sebulan terakhir—serta melemahnya mayoritas mata uang Asia, di mana rupiah mencatat pelemahan terdalam di kawasan sebesar 0,23%.

Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas. Konflik AS-Iran yang berkepanjangan memicu sentimen risk off di pasar keuangan global. Kelompok Houthi Yaman menargetkan dua kapal tanker minyak Saudi dengan rudal balistik dan rudal jelajah, sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania serta meledakkan ranjau di Selat Hormuz.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent sempat menembus USD 95 per barel, memberikan tekanan ganda bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak.

Lonjakan ini memunculkan kembali kekhawatiran terhadap risiko twin deficit—defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan yang terjadi bersamaan—yang pada akhirnya melemahkan sentimen investor terhadap mata uang domestik. kebijakan tarif impor baru AS sebesar 10%-12,5% terhadap 60 mitra dagang turut menambah ketidakpastian global dan memperkuat posisi dolar sebagai aset aman.

Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam kebijakan terbarunya. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap tekanan nilai tukar dan ketidakpastian global, dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi domestik. Para analis memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede memproyeksikan kisaran Rp17.900–Rp18.025. Bahkan, tidak menutup kemungkinan rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp18.000 apabila tekanan geopolitik terus berlanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *