ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (11/8/2026), menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif. Indeks sempat dibuka di zona hijau, namun tekanan jual yang kuat sepanjang sesi berhasil membalikkan arah hingga indeks ditutup melemah.
IHSG memulai perdagangan dengan langkah positif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks dibuka menguat 18,44 poin atau 0,29% ke level 6.383,81. Penguatan awal ini didukung oleh saham-saham big caps seperti AMMN, TLKM, dan TPIA yang menjadi penopang utama indeks. Pada saat yang sama, kelompok 45 saham unggulan (LQ45) juga ikut menguat 1,88 poin atau 0,30% ke posisi 636,01.
Namun, momentum penguatan tidak bertahan lama. Hanya dalam hitungan menit, IHSG berbalik arah dan masuk ke zona merah. Mengutip data BEI via RTI Business, pada pukul 09.04 WIB indeks telah melemah 0,17% ke level 6.354,61. Pelemahan ini terjadi di tengah mayoritas indeks sektoral yang turun, dengan sektor perindustrian menjadi pemberat terbesar, disusul sektor teknologi, barang konsumer primer, energi, properti, infrastruktur, dan keuangan. Volume perdagangan pada sesi ini tercatat mencapai 2,79 miliar saham dengan nilai transaksi Rp789,98 miliar, dengan 240 saham melemah, 220 menguat, dan 204 stagnan.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Tekanan jual terus berlanjut sepanjang hari. Indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.462,74 sebelum akhirnya ditutup di level terendahnya, 6.362,76. Secara keseluruhan, IHSG ditutup melemah 0,69% ke level 6.365,37.
Sentimen global didominasi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengajukan tuntutan baru agar Iran membayar kompensasi atas korban tewas akibat perang dan aksi demonstrasi selama 50 tahun terakhir. Tuntutan ini semakin mempersulit upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.
Akibatnya, harga minyak melonjak sekitar 5% pada Senin (10/8), dengan WTI ditutup di USD82,13/barel dan Brent di USD87,72/barel. Lonjakan harga minyak ini menjadi sentimen negatif bagi pasar saham karena meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya produksi.
Selain itu, pelaku pasar juga bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi kunci AS pekan ini, yaitu Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) serta data penjualan ritel. Data-data ini akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Dari dalam negeri, sentimen juga masih mixed. Meskipun pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia telah diajukan Presiden, langkah ini dinilai belum mampu mendorong penguatan indeks secara signifikan. Di sisi lain, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 116,8 pada Juli 2026, menurun tiga bulan berturut-turut meskipun masih berada di zona optimis (di atas 100).
Data aliran modal asing juga menunjukkan hasil yang beragam. Pada perdagangan Senin (10/8), investor asing mencatatkan net foreign inflow sebesar Rp829,69 miliar di seluruh pasar, namun di pasar reguler justru mencatatkan net foreign sell sebesar Rp875,51 miliar. Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain TPIA, BMRI, TLKM, ASII, dan BBRI. Secara year-to-date (YtD), bursa saham masih mengalami net foreign outflow sebesar Rp70,46 triliun di seluruh pasar dan Rp95,37 triliun di pasar reguler.

