ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka menguat, jumat (21/8/2026), melanjutkan reli positif setelah sehari sebelumnya berhasil menembus level psikologis 6.500. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.526,30, menguat 24,71 poin atau 0,38% dari posisi penutupan sebelumnya di 6.501,59.
Pada pembukaan, IHSG langsung melesat ke level 6.524,07, sempat menyentuh level tertinggi 6.531,49 dan terendah 6.522,92 pada awal perdagangan. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen yang beragam dari pasar global, di mana bursa Asia terpantau menguat.
Sementara Wall Street justru ditutup anjlok pada perdagangan Kamis (20/8) karena kenaikan yield obligasi Treasury dan kinerja mengecewakan dari retailer raksasa Walmart. Penguatan IHSG pada perdagangan pagi ini berlangsung cukup solid, dengan mayoritas saham berada di zona hijau. Sebanyak 307 saham menguat, 101 saham melemah, sementara 555 saham lainnya stagnan.
Nilai transaksi pada awal perdagangan mencapai Rp307,1 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 588,6 juta saham dan frekuensi transaksi tercatat sebanyak 47.950 kali. Seluruh indeks sektoral menguat, menopang kenaikan IHSG. Sektor keuangan mencatat kenaikan terbesar sebesar 0,62%, diikuti sektor infrastruktur yang naik 0,61% dan sektor properti yang naik 0,48%.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Adapun top gainers LQ45 pagi ini didominasi oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang naik 1,45%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menguat 1,27%, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang naik 1,11%. Sementara itu, top losers LQ45 pagi ini adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang turun 1,82%, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang melemah 1,33%, dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang turun 0,97%.
Dari sisi eksternal, perhatian investor tertuju pada beberapa sentimen utama. Pertama, perkembangan konflik AS-Iran yang terus memanas, di mana Amerika Serikat mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terberat dalam sejarah terhadap Iran serta memperketat blokade, yang berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pasar mencermati kenaikan kembali yield US Treasury tenor panjang meskipun Departemen Keuangan AS berencana memperbesar program buyback surat utang jangka panjang hingga di atas USD4 miliar per penerbitan.
Risalah FOMC menunjukkan perdebatan yang cukup terbelah mengenai arah suku bunga The Fed, di mana mayoritas pejabat mempertahankan suku bunga di 3,50%-3,75%, tetapi sejumlah pejabat menilai kenaikan suku bunga diperlukan apabila inflasi tetap tinggi. Meskipun demikian, bursa saham kawasan Asia justru kompak menguat pada penutupan perdagangan Kamis kemarin, didukung oleh rencana AS untuk membeli kembali surat utang jangka panjang guna menekan biaya pinjaman.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,36%, Hang Seng Hong Kong naik 0,8%, dan Kospi Korea Selatan bahkan melesat 5,89%. Sementara itu, China mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (LPR) tenor satu tahun di 3,00% dan LPR tenor lima tahun di 3,50% untuk bulan ke-15 berturut-turut. Dari Jepang, inflasi kembali meningkat menjadi 2% secara tahunan pada Juli, sementara neraca perdagangan mencatat defisit JPY634,5 miliar.
Dari dalam negeri, investor akan mencermati rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan kuartal II-2026 dari Bank Indonesia. Pada kuartal I, NPI mencatat defisit US$9,1 miliar, sedangkan defisit transaksi berjalan mencapai US$4 miliar atau 1,1% terhadap PDB.
Data terbaru akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah tekanan sektor eksternal mulai mereda dan apakah arus modal asing kembali menguat. BI juga akan merilis data uang beredar Juli 2026, di mana M2 pada Juni tumbuh 8,7% secara tahunan menjadi Rp10.432,8 triliun. Selain itu, penguatan rupiah dan pelemahan dolar AS menjadi sentimen positif bagi IHSG, meskipun aksi profit taking tetap perlu diwaspadai setelah kenaikan IHSG yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Rupiah yang menguat 2,4% dari level terlemah Rp18.190 per USD menjadi katalis positif bagi IHSG.
