IHSG Bangkit ke Zona Hijau, Kebijakan BI Dorong Penguatan

Ilustrasi pergerakan harga saham

ASIAWORLDVIEW Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Kamis (20/8/2026), berhasil bangkit dari pelemahan sehari sebelumnya dan bergerak impresif di zona hijau sejak pembukaan. IHSG dibuka menguat 53,12 poin atau 0,83% ke level 6.447,25, dan momentum penguatan langsung berlanjut.

Hanya dalam waktu sekitar satu jam setelah pembukaan, indeks telah menanjak ke level 6.460,28 atau menguat 1,03%. Pada pukul 09.28 WIB, IHSG berada di posisi 6.464, menguat 1,10%, dan terus melaju ke level 6.467 pada pukul 10.39 WIB dengan penguatan 1,14%. Penguatan ini bahkan berlanjut hingga penutupan sesi I, di mana IHSG ditutup di level 6.487,96 atau melonjak 1,47%—hanya berjarak sekitar 12 poin dari level psikologis 6.500.

Ledakan penguatan IHSG tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan didorong oleh serangkaian sentimen positif yang datang silih berganti, baik dari pasar global maupun domestik. Katalis utama datang dari kebijakan buyback obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat. Pemerintah AS mengumumkan rencana untuk menggandakan nilai operasi buyback menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026, dari sebelumnya 2 miliar dolar AS.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Langkah ini berhasil meredakan tekanan di pasar obligasi AS dan menopang ekuitas global, mendorong bursa saham Asia bergerak positif dan memberikan angin segar bagi IHSG. Dampaknya, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 30 tahun turun sekitar 9,9 basis poin ke 5,186%, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007 di 5,337%. Penurunan yield ini turut melemahkan dolar AS yang terpantau turun 0,84% ke level 98,83, sehingga membuka ruang bagi penguatan aset berisiko seperti saham.

Dari sisi domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Agustus 2026 turut menjadi penopang kepercayaan pasar. Sikap BI yang tetap konsisten menjaga stabilitas rupiah dan inflasi di tengah ketidakpastian global memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar.

Sementara itu, dari sektor komoditas, harga minyak kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dengan WTI naik 0,77% menjadi USD85,59 per barel dan Brent menguat 0,44% menjadi USD91,42 per barel. Hal ini turut mendorong saham-saham berbasis komoditas dan tambang yang menjadi penopang utama indeks.

Penguatan IHSG pada hari ini terbilang cukup luas. Dari total transaksi, lebih dari 400 saham tercatat menguat dengan volume transaksi yang tinggi, mencapai 15,1 miliar saham dengan nilai transaksi Rp5,7 triliun pada sesi pagi, dan melonjak menjadi Rp7,98 triliun pada akhir sesi I. Sektor bahan baku menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan 4,22%, diikuti sektor utilitas dan energi.

Saham-saham tambang besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi sekitar 14,37 poin, disusul oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Di sisi lain, sektor transportasi menjadi satu-satunya sektor yang tergelincir ke zona merah dengan pelemahan tipis 0,05%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *