ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan yang berkelanjutan, hari ini, Jumat (21/8/2026). Kondisi ini melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya. Setelah sukses ditutup menguat 92 poin atau 0,52% ke level Rp17.748 pada Kamis (20/8), rupiah kembali dibuka di zona hijau pada pagi hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot, rupiah dibuka menguat 11 poin (0,06%) ke level Rp17.737 per dolar AS. Penguatan ini terus berlanjut sepanjang hari, dengan indeks ditutup menguat 0,49% atau sekitar 31 poin ke level Rp17.746 per dolar AS. Pergerakan ini berada dalam kisaran yang diproyeksikan oleh para analis, yaitu antara Rp17.700 hingga Rp17.800.
Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Agustus juga terus memberikan sentimen positif bagi rupiah. Pasar juga mengantisipasi rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia kuartal II-2026 yang dijadwalkan keluar hari ini.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.805, Didukung Sentimen BI dan Global
Di sisi perbankan, kurs jual dan beli dolar AS di sejumlah bank besar mencatatkan variasi yang cukup beragam. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada pukul 09.08 WIB mematok harga beli dolar AS sebesar Rp17.706 dan harga jual sebesar Rp17.726 melalui layanan e-rate. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menetapkan harga beli dan jual untuk special rate masing-masing sebesar Rp17.735 dan Rp17.765 per dolar AS. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada pukul 09.14 WIB menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp17.733 dan harga jual Rp17.759. Terakhir, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menetapkan harga beli dolar AS pada pukul 09.05 WIB sebesar Rp17.725 dan harga jual Rp17.755 untuk special rates.
Meskipun rupiah menunjukkan penguatan, ada sejumlah sentimen risiko yang tetap perlu diwaspadai dan dapat mempengaruhi pergerakannya ke depan. Dari sisi eksternal, risalah rapat The Fed pada Juli mengindikasikan bahwa sejumlah pembuat kebijakan masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak menunjukkan penurunan yang berkelanjutan.
Bank Indonesia sendiri memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada kuartal IV-2026 akibat tingginya inflasi global dan ketidakpastian ekonomi. Kenaikan suku bunga AS ini berpotensi memperkuat dolar dan memberikan tekanan pada rupiah.

