ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Kamis (20/8/2026), menunjukkan penguatan yang cukup signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global, yang turut mempengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah dibuka di zona hijau dengan level yang beragam, mencerminkan dinamika pasar yang positif. Data Bloomberg mencatat rupiah dibuka menguat 0,20% atau 35 poin ke level Rp17.805 per dolar AS, sementara data Refinitiv menunjukkan penguatan 0,14% ke level Rp17.800 per dolar AS. Sumber lain seperti ANTARA melaporkan penguatan 30 poin atau 0,17% menjadi Rp17.810 per dolar AS.
Bahkan, dalam pergerakan intradari, berdasarkan data Bloomberg pada pukul 10.30 WIB, rupiah sempat menyentuh level Rp17.768 per dolar AS, menguat 0,40% dari penutupan sebelumnya. Penguatan ini merupakan kelanjutan dari tren positif pada hari sebelumnya di mana rupiah ditutup menguat tipis.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.847, BI Rate Jadi Sorotan Pasar
Ada beberapa faktor utama yang mendorong penguatan rupiah pada hari ini. Pertama, dari sisi domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Agustus 2026 disambut positif oleh pasar.
Sikap Bank Indonesia yang tetap hawkish (cenderung menaikkan suku bunga) ini dianggap sebagai komitmen kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility di 4,75% dan Lending Facility di 6,50%. Langkah ini memberikan kepastian bagi pelaku pasar mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Dari sisi eksternal, dolar AS sedang berada di bawah tekanan di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah dan berada di sekitar level terendah dalam tiga bulan terakhir. Pelemahan ini dipicu oleh rencana Departemen Keuangan AS untuk melakukan operasi pembelian kembali (buyback) obligasi berjangka panjang guna meredakan gejolak di pasar Treasury.
Langkah ini diambil setelah aksi jual besar-besaran mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007. Penurunan imbal hasil ini mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar, sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat. Selain itu, aliran masuk modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) juga turut menopang penguatan rupiah.
Penguatan rupiah pada hari ini terjadi seiring dengan penguatan mayoritas mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar, mencapai 0,53%. Disusul oleh Peso Filipina yang menguat 0,34% dan Baht Thailand yang terapresiasi 0,23%. Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya justru melemah, seperti Won Korea yang melemah hingga 0,38% dan Yen Jepang yang melemah 0,20%. Meskipun demikian, pergerakan rupiah yang konsisten di zona hijau menunjukkan kepercayaan pasar yang cukup kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.

