ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang beragam sepanjang hari, Selasa (18/8/2026). Angkanya mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh faktor domestik dan global.
Secara umum, rupiah dibuka dengan posisi yang beragam tergantung sumber data, namun cenderung melemah dari penutupan perdagangan sebelumnya. Rupiah di pasar spot dibuka melemah 0,27% atau 48 poin ke posisi Rp17.846 per dolar AS, sementara data Refinitiv mencatat pelemahan tipis 0,06% ke posisi Rp17.830 per dolar AS pada pembukaan perdagangan.
Pembukaan perdagangan, rupiah justru bergerak menguat 29 poin atau 0,16% menjadi Rp17.798 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.827. Namun, seiring berjalannya waktu, rupiah kembali tertekan dan melemah.
Dinamika pergerakan rupiah pada hari ini tidak terlepas dari sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari sisi eksternal, tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian utama. Eskalasi konflik, termasuk berakhirnya gencatan senjata AS-Iran serta serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan Laut Merah. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar dan mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini menekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Di sisi lain, dolar AS justru berada di bawah tekanan setelah sejumlah data ekonomi Negeri Paman Sam menunjukkan pelemahan, seperti penjualan ritel yang turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan dan inflasi yang relatif terkendali. Hal ini mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), dengan peluang kenaikan pada pertemuan September turun tajam dari 52,2% menjadi hanya 30,6%. Pelemahan dolar AS ini seharusnya memberikan ruang bagi penguatan rupiah, namun sentimen geopolitik yang lebih dominan membuat rupiah tetap tertekan.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 18-19 Agustus 2026. Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara agresif.
Keputusan kebijakan moneter yang akan diumumkan pada Rabu (19/8) serta pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, inflasi, dan prospek pertumbuhan ekonomi akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah ke depan. Selain itu, pasar juga mencermati risalah rapat FOMC untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan informasi kurs untuk transaksi, nilai tukar rupiah di bank-bank konvensional pada hari ini juga bervariasi. Bank BCA misalnya, menetapkan kurs e-Rate untuk pembelian (beli) di angka Rp17.830 per dolar AS dan penjualan (jual) di Rp17.850 per dolar AS.

