Gencatan Senjata AS–Iran Dorong Koreksi Harga Energi, Minyak Global Mulai Turun

Produksi menyak mentah di dekat lepas pantai.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Harga minyak mentah Brent turun dari level USD100 per barel ke kisaran USD97, Senin (27/7/2026). Kondisi ini telah membawa angin segar bagi pasar keuangan global.

Sepanjang Juli 2026, harga minyak mengalami volatilitas ekstrem. Lonjakan signifikan terjadi setelah serangan Houthi terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah, yang mendorong Brent menyentuh level US$102 per barel—tertinggi dalam dua bulan. Kekhawatiran terhadap pasokan global semakin memuncak seiring dengan penutupan nyaris total Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Namun, akhir pekan lalu terjadi perubahan arah yang cukup dramatis. Gencatan senjata sementara antara AS dan Iran memberikan jeda dalam eskalasi militer yang telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut. Iran menyatakan kesiapan menghentikan serangan balasan selama AS melakukan hal yang sama.

Akibatnya, Brent crude merosot tajam hingga 5,2% ke USD91,73 per barel pada perdagangan Senin, sementara WTI turun 5,4% ke USD84,45. Meski demikian, risiko masih membayangi. Houthi tetap menyerang instalasi minyak Saudi di sepanjang pantai Laut Merah, dan Morgan Stanley memperingatkan bahwa dalam skenario geopolitik tertentu, Brent masih berpotensi kembali menembus USD100.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Ketika minyak menembus USD100, kekhawatiran inflasi melonjak, mendorong imbal hasil obligasi AS 10-tahun ke level tertinggi 18 bulan di 4,714%. Pasar dengan cepat memangkas ekspektasi penurunan suku bunga dan mulai memprakirakan kenaikan. Probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 29 Juli melonjak dari 12% menjadi 33% hanya dalam sepekan.

Kini, dengan minyak turun ke US$91,73, narasi inflasi mulai mereda. Imbal hasil obligasi AS 10-tahun turun ke 4,66%, dan pasar sedikit mengurangi probabilitas kenaikan suku bunga The Fed. Para ekonom masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di 3,50%-3,75% pada pertemuan pekan ini, namun ketidakpastian tetap tinggi. Analis Goldman Sachs mencatat bahwa ada potensi setidaknya satu suara dissent yang mendukung kenaikan.

Penurunan harga minyak memberikan kelegaan bagi aset-aset berisiko. S&P 500 futures naik 0,8%, Nasdaq futures melonjak 1,3%, dan EUROSTOXX 50 futures menguat 0,6%. Di Asia, Nikkei naik 0,4% dan indeks saham Korea Selatan menguat 0,6%. Emas juga ikut terdorong, dengan harga naik 1,1% mendekati US$4.100 per ons. Sentimen serupa juga menyentuh pasar kripto, di mana aset digital yang selama beberapa pekan tertekan oleh ekspektasi suku bunga tinggi dan penguatan dolar, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring meredanya tekanan inflasi.

Meredanya kekhawatiran inflasi akibat turunnya harga minyak memang memberikan ruang bernapas bagi aset berisiko. Namun, pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi baru di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga energi. Pertemuan The Fed pekan ini menjadi ujian berikutnya bagi ketahanan pasar dalam menghadapi ketidakpastian yang masih tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *