ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang beragam dan fluktuatif sepanjang sesi, namun secara umum berada dalam tren penguatan tipis hari ini, Rabu (19/8/2026). Kondisi ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) serta sentimen global yang masih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik.
Di pasar spot, rupiah dibuka di berbagai level yang bervariasi tergantung sumber data. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat tipis 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp17.861 per dolar AS. Sementara itu, data Refinitiv mencatat penguatan yang lebih signifikan di awal perdagangan, di mana rupiah terapresiasi 0,11 persen ke posisi Rp17.830 per dolar AS.
Pergerakan rupiah tidak serta merta langsung stabil di level tersebut. Rupiah sempat mengalami pelemahan tipis, tercatat di posisi Rp17.864 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB, melemah 0,01 persen dari penutupan sebelumnya, dan bahkan sempat menyentuh level Rp17.865 pada pembukaan.
Pergerakan rupiah pada hari ini tidak lepas dari sejumlah faktor fundamental yang menjadi perhatian pelaku pasar. Faktor paling krusial adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada 18-19 Agustus 2026. Pasar secara luas mengantisipasi keputusan BI mengenai suku bunga acuan.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.847, BI Rate Jadi Sorotan Pasar
Jika proyeksi ini terwujud, BI akan menahan suku bunga dalam dua pertemuan beruntun, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin (dari 4,75% menjadi 5,75%) pada Mei-Juni 2026 untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga inflasi.
Investor dan pelaku pasar mengambil sikap wait and see menantikan pengumuman resmi serta pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, kondisi ekonomi domestik, likuiditas perbankan, dan prospek pertumbuhan kredit. Selain keputusan suku bunga, pasar juga mencermati rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia yang dijadwalkan keluar pada Jumat (21/8/2026), yang dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi fundamental eksternal Indonesia.
Di sisi eksternal, sentimen global yang mempengaruhi pergerakan rupiah cukup beragam. Dolar AS sendiri masih bergerak terbatas karena pelaku pasar semakin memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan September, didorong oleh rangkaian data ekonomi AS yang menunjukkan pelemahan, seperti hilangnya lapangan kerja dan inflasi yang terkendali. Hal ini membuat pasar memperhitungkan peluang hampir 70% The Fed akan menahan suku bunga pada bulan depan.
Namun di sisi lain, dolar AS masih mendapat dukungan dari kekhawatiran geopolitik, terutama eskalasi konflik antara AS dan Iran serta penutupan Selat Hormuz yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan inflasi. Ketegangan di Timur Tengah ini menjadi faktor penekan bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah. Harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas level USD91 per barel turut membayangi pergerakan rupiah.
Di tengah kondisi ini, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika mata uang di kawasan Asia. Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini, dengan Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar hingga 0,39 persen. Namun, beberapa mata uang Asia lainnya masih melemah, seperti Peso Filipina, Ringgit Malaysia, dan Baht Thailand. Rupiah sendiri berada di posisi yang relatif stabil di tengah variasi pergerakan mata uang regional tersebut.

