Kolaborasi Ferrero dan EIIS: Generasi Kini Harus Bertindak, Keberlanjutan Tanggung Jawab Kita

Andrea Geremicca, Director General dari European Intitute of Innovation for Sustainability (EIIS)

ASIAWORLDVIEW – Dalam lanskap bisnis global yang semakin tidak pasti, ditandai oleh fluktuasi harga energi, keterbatasan bahan baku, dan rantai pasok yang rapuh, keberlanjutan telah bertransformasi dari sekadar wacana etika saja. Kini, menjadi fondasi tunggal bagi kelangsungan hidup perusahaan. Pandangan ini ditegaskan oleh Andrea Geremicca, Direktur Jenderal European Institute of Innovation for Sustainability (EIIS), dalam wawancara eksklusif dengan CSR Indonesia di sela-sela Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 di ICE BSD, saat wawancara ekslusif dengan Asia World View.

“Keberlanjutan bukan sekadar salah satu pilihan strategi bisnis, melainkan satu-satunya strategi yang benar-benar memungkinkan perusahaan untuk terus bertahan,” ia mengatakan.

Ini bukan sekadar tren, tambahnya, melainkan tantangan nyata yang harus dihadapi generasi saat ini. Implementasi keberlanjutan membutuhkan koordinasi lintas negara, sektor, dan budaya. Hal itu karena menyangkut perubahan mendasar dalam cara produksi, konsumsi, serta pengelolaan sumber daya alam.

Baca Juga: Menko Airlangga Ungkap Alasan Penetapan BBM Khusus Nelayan

Generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, memiliki peran strategis karena mereka lebih terbuka terhadap perubahan dan lebih sadar akan dampak lingkungan. Namun, keberhasilan penerapan sustainability tetap bergantung pada dukungan regulasi, investasi teknologi hijau, serta kolaborasi internasional yang konsisten.

“Generasi saat ini memikul tanggung jawab besar untuk memastikan keberlanjutan tidak hanya menjadi jargon, tetapi benar-benar diterapkan dalam kebijakan, bisnis, dan gaya hidup. Tantangan seperti transisi energi, pengurangan emisi karbon, pengelolaan limbah, hingga ketahanan pangan global, semuanya membutuhkan inovasi dan komitmen kolektif,” jelasnya.

Definisi ini mengubah paradigma bahwa keberlanjutan adalah bentuk manajemen risiko terhadap ketidakpastian global, bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi. Hasil kolaborasi antara Ferrero, EIIS, dan Consiglio Nazionale dei Dottori Agronomi e dei Dottori Forestali (CONAF).

“Keberlanjutan bukanlah biaya tambahan, melainkan investasi yang melindungi perusahaan dari guncangan eksternal, baik itu perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, maupun perubahan regulasi,” jelasnya.

“Program ini lahir dari kesadaran bahwa sektor hazelnut di Italia, dengan luas lahan sekitar 95.000 hektar, menghadapi tekanan besar dari perubahan iklim dan serangan fitopatologi baru. Di sinilah peran agronom menjadi krusial. Mereka adalah ujung tombak inovasi di tingkat petani, yang menentukan kualitas hasil panen sekaligus keberlanjutan ekosistem pertanian,” ia menambahkan.

Kolaborasi lintas sektor, antara korporasi, institusi pendidikan, dan asosiasi profesi, terbukti efektif dalam mengatasi tantangan sistemik yang tidak bisa dipecahkan oleh satu pihak saja. Selain itu, investasi pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat petani dan agronom adalah fondasi bagi ketahanan rantai pasok jangka panjang.

“Hambatan terbesar terletak pada kesenjangan kepentingan ekonomi jangka pendek dengan tujuan jangka panjang menjaga lingkungan dan kesejahteraan sosial,” sebutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *