Bitcoin dan XRP Menggebrak di Tengah Gejolak Perang AS-Iran

Bitcoin and XRP

ASIAWORLDVIEW – Pasar kripto global kembali menunjukkan volatilitas yang ekstrem pada Selasa (21/7/2026) ketika Bitcoin (BTC) berhasil merebut level psikologis USD66.000 seiring dengan keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang menyetujui ketentuan etika dalam Clarity Act. Sementara itu, XRP yang menjadi primadona komunitas digital, bertahan di atas $1.13 ditengah laporan serangan rudal Iran ke pusat data Amazon di Bahrain.

Bagi para pelaku pasar di Asia, ini adalah sebuah tarian antara harapan diplomatik dan ancaman perang yang nyata. Kemudian menciptakan momentum beli yang kuat namun dibayangi ketegangan geopolitik.

Bitcoin mencatatkan rentang harga harian dari USD63.844 hingga USD66.181, dengan volume perdagangan yang melonjak 67% dalam 24 jam terakhir. Lonjakan volume ini mengindikasikan adanya minat segar dari para trader institusional dan ritel, terutama setelah isu gencatan senjata antara AS dan Iran mulai menguat di kalangan diplomat.

Secara analisis teknikal, BTC kini berhasil menembus level USD65.500 yang sebelumnya menjadi resistensi dinamis. Namun, berdasarkan volume profile, zona USD67.000-USD68.000 adalah “tembok raksasa” yang akan diuji berikutnya. Jika BTC gagal menembus zona tersebut, koreksi menuju USD65.000 akan menjadi skenario yang sangat mungkin terjadi.

Baca Juga: Industri Kripto Ragukan Pengesahan Kejelasan RUU 2025

Sebaliknya, bila USD65.000 mampu bertahan sebagai support kuat, peluang BTC untuk melanjutkan reli menuju USD70.000 di akhir pekan menjadi terbuka lebar. Para analis di Asia menyarankan untuk memantau pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi, karena kedua instrumen ini menunjukkan respons negatif terhadap meningkatnya risiko perang di Timur Tengah.

Sementara itu, XRP berhasil mempertahankan level USD1.13, mencatatkan kenaikan lebih dari 4% dalam 24 jam dengan puncak $1.14. Volume perdagangan XRP juga ikut melonjak 68%, menandakan adanya “smart money” yang masuk ke altcoin ini. Analis kripto kenamaan, Ali Martinez, menyoroti bahwa USD1.13 adalah level resistensi historis yang kini sedang diuji.

Penembusan yang meyakinkan di atas level ini dapat membuka jalan menuju target USD1.30, sekaligus mengonfirmasi pola bullish breakout yang telah terbentuk sejak awal Juli. Namun, waspadai kabar geopolitik—jika laporan serangan ke pusat data Amazon terbukti benar dan memicu eskalasi baru, baik Bitcoin maupun XRP dapat kehilangan momentumnya dengan cepat. Pasar Asia sendiri terlihat cukup optimis, dengan indeks ketakutan dan keserakahan (Fear & Greed Index) yang masih bertahan di zona “Netral-Bullish”, menunjukkan bahwa trader masih mencari peluang di tengah ketidakpastian.

Pasar kripto saat ini sedang berhadapan dengan dua narasi besar: Geopolitical Hedge dan Digital Safe Haven. Meskipun Iran dan AS terlibat dalam pertempuran fisik, para pelaku pasar di Tokyo, Singapura, dan Hong Kong tampaknya lebih memilih untuk “membeli rumor” tentang potensi gencatan senjata.

Keputusan Trump untuk menyetujui Clarity Act dianggap sebagai sinyal positif untuk kepastian regulasi aset digital di AS, yang menjadi katalis utama reli saat ini. Namun, volume tinggi yang tiba-tiba menanjak juga mengingatkan kita bahwa pasar ini bisa berbalik arah hanya dalam hitungan menit jika berita perang memanas. Pada akhirnya, baik Bitcoin maupun XRP masih bergerak dalam tren korektif jangka pendek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *