IHSG Terkoreksi 1%, Tren Penguatan Terhenti

Ilustrasi pergerakan harga saham ke zona hijau.

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah, Rabu (19/8/2026), mengakhiri tren penguatan dua hari berturut-turut. Tekanan jual terjadi sejak awal sesi, dengan indeks utama bursa tanah air dibuka melemah 0,65 persen atau 41,56 poin ke posisi 6.408,18, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.449,83.

Pelemahan ini terjadi dalam suasana yang didominasi sentimen wait and see menjelang pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) siang harinya. Pasar secara luas mengantisipasi bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen, dan ketidakpastian akan arah kebijakan moneter ke depan membuat pelaku pasar cenderung menahan diri.

Sentimen global juga turut membayangi, dengan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi global dan pelemahan rupiah yang mendekati level psikologis Rp17.900 per dolar AS meningkatkan risiko volatilitas. Di kancah internasional, keputusan penyedia indeks FTSE Russell untuk menunda penambahan saham-saham baru dari Indonesia sampai akhir tahun juga menambah sentimen negatif.

Faktor pemberat utama IHSG datang dari aksi jual besar-besaran pada saham emiten batu bara, PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Saham BYAN anjlok hingga 14,04 persen ke level Rp14.850, menyusul klarifikasi manajemen yang menyatakan tidak mengetahui adanya rencana akuisisi sekitar 62,2 persen saham oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.

Baca Juga: Dampak Gempa Flores 7,7 SR: Ekonomi NTT Terancam

Koreksi ini terjadi setelah saham BYAN meroket hampir 20 persen dalam dua hari perdagangan sebelumnya. Akibatnya, saham BYAN menjadi penekan terbesar IHSG dengan kontribusi negatif sekitar 50,88 poin. Tekanan juga datang dari saham berkapitalisasi besar lainnya seperti Bumi Resources Minerals (BRMS), Amman Mineral Internasional (AMMN), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA).

Seiring berjalannya sesi, pelemahan IHSG semakin dalam. Pada pukul 09.03 WIB, indeks tercatat turun 1,02 persen atau 65,61 poin ke level 6.384,22, dan sempat menyentuh level terendah di kisaran 6.376 hingga 6.377. Dari sisi sektoral, sektor energi menjadi pemberat utama dengan penurunan mencapai 5,71 persen. Hampir seluruh sektor melemah, kecuali sektor properti yang mencatat penguatan tipis 0,66 persen. Aktivitas perdagangan terpantau ramai dengan nilai transaksi mencapai ratusan triliun rupiah dan frekuensi perdagangan yang tinggi.

Di tengah tekanan yang melanda, beberapa saham masih mampu menjadi penopang indeks, seperti Mora Telematika (MORA), Bank Mandiri (BMRI) yang naik 0,24 persen ke level 4.160, Indokripto Semesta (COIN), dan Charoen Pokphand Indonesia (CPIN). Sentimen negatif juga tampak dari aksi jual bersih (net sell) investor asing yang tercatat sebesar Rp689,3 miliar pada sesi pagi, mengindikasikan masih berlanjutnya aliran keluar modal asing dari pasar saham Indonesia. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *