BI Proyeksikan Pertumbuhan 2026 Tetap Kuat di Tengah Krisis Global

Gubernur BI Perry Warjiyo

ASIAWORLDVIEW – Bank Indonesia (BI) menekankan pentingnya koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat. Seruan ini muncul karena volatilitas pasar keuangan internasional, lonjakan harga komoditas, serta arus keluar modal dari negara berkembang menuju aset safe-haven seperti dolar AS, yang berpotensi menekan perekonomian domestik.

“Lalu lintas di Selat Hormuz kembali terganggu, yang memengaruhi rantai pasokan produksi dan perdagangan antarnegara, serta menyebabkan harga minyak dan berbagai komoditas global kembali melonjak,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, Rabu (22/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa ketegangan pasar global kembali muncul menyusul eskalasi baru konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026. Dengan memperkuat sinergi kebijakan, BI berharap fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh, terutama melalui dukungan permintaan domestik yang stabil, konsumsi publik, serta investasi pada proyek prioritas nasional.

“Langkah ini juga dimaksudkan untuk memastikan bahwa strategi moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dapat berjalan seiring dengan program pemerintah, sehingga pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di kisaran yang sehat meskipun tekanan eksternal terus berlangsung,” ia menjelaskan.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan tetap lesu di level 3 persen pada tahun 2026, sementara inflasi global diperkirakan akan naik menjadi sekitar 4,5 persen. Tekanan inflasi ini telah mendorong penerapan kebijakan moneter yang ketat secara internasional, dengan Federal Reserve AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga Fed Funds pada awal kuartal keempat 2026.

Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasuries) melonjak tajam pada 20 Juli 2026, mencapai 4,56 persen untuk obligasi bertenor 10 tahun dan 4,18 persen untuk obligasi bertenor 2 tahun, didorong oleh melebarnya defisit fiskal AS.

Arus keluar modal global yang diakibatkannya dari pasar negara berkembang menuju aset safe-haven AS telah secara signifikan memperkuat dolar AS terhadap mata uang negara maju maupun pasar negara berkembang. Terlepas dari hambatan global ini, Perry menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh, terutama didorong oleh permintaan domestik yang kuat.

Investasi terutama didorong oleh proyek-proyek konstruksi yang terkait dengan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), meskipun investasi swasta masih memerlukan dorongan lebih lanjut. Di berbagai sektor, pertumbuhan tetap terjaga di sektor manufaktur, konstruksi, transportasi, dan pergudangan.

Untuk memitigasi risiko eksternal yang sedang berlangsung, bank sentral menegaskan akan menyelaraskan strategi moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran secara erat dengan program-program pemerintah guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan jangka panjang.

“Bank Indonesia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan tetap kuat, berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *