ASIAWORLDVIEW – Di balik gemerlap kampanye gaya hidup sehat dan tren menu makanan kekinian yang sering mengagung-agungkan protein sebagai “raja” nutrisi, tersimpan risiko penyakit mematikan. Asupan protein berlebih justru dapat menjadi bumerang bagi kesehatan ginjal anak.
“Tubuh anak memang sangat membutuhkan protein sebagai bahan baku pertumbuhan otot, jaringan, dan sistem kekebalan tubuh. Namun ginjal memiliki kapasitas kerja yang terbatas. Pastikan terlebih dahulu apakah kondisi anak memang normal atau memiliki faktor risiko tertentu. Terapinya ada pada kita semua, salah satunya melalui edukasi mengenai pola makan yang benar,” ujar Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.Endo(K), FAAP, FRCPI (Hon.), FIAP (Hon.), Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, masyarakat Indonesia secara genetik memiliki pola konsumsi yang berbeda dengan masyarakat di kawasan Eropa maupun Afrika yang secara turun-temurun terbiasa mengonsumsi protein dalam jumlah lebih tinggi.
Organ kecil berbentuk kacang ini berfungsi layaknya saringan halus dan pabrik daur ulang yang bertugas menyaring hasil metabolisme, terutama urea dan kreatinin yang merupakan produk sampingan dari penguraian protein. Ketika konsumsi protein harian melampaui takaran yang dibutuhkan, ginjal anak tidak memiliki pilihan selain dipaksa untuk terus “lembur” membuang limbah metabolisme tersebut secara ekstra keras, layaknya mesin penyaring yang harus bekerja di atas kapasitas optimalnya dalam jangka waktu panjang.
Baca Juga: Mempersiapkan Mental Anak Kembali ke Sekolah
“Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, bukan tidak mungkin ginjal akan mengalami kelelahan fungsional bahkan kerusakan struktural dan risiko ini semakin nyata pada anak-anak yang memang memiliki kondisi medis tertentu, seperti kelainan bawaan pada saluran kemih, gangguan ginjal kongenital, atau riwayat penyakit metabolik yang membuat organ penyaring mereka tidak berfungsi secara sempurna,” ia menambahkan.
Lebih jauh lagi, pola makan yang terlalu didominasi protein sering kali terjadi secara tidak seimbang, di mana porsi lauk hewani dan sumber protein lainnya justru “menggusur” ruang di piring untuk karbohidrat kompleks, serat, vitamin, dan mineral esensial yang juga sama vitalnya bagi proses tumbuh kembang anak.
Akibatnya, anak mungkin mengalami pertumbuhan yang tidak proporsional atau kekurangan energi jangka panjang karena tubuhnya kehabisan bahan bakar utama untuk aktivitas sehari-hari. Menghadapi fenomena ini, para orang tua dituntut untuk bijak dalam menyusun menu harian, tidak mudah terbuai oleh tren diet tinggi protein yang marak di media sosial tanpa mempertimbangkan bahwa kebutuhan fisiologis anak sangat berbeda dengan orang dewasa.
Ahli gizi dan dokter anak secara konsisten merekomendasikan agar pemenuhan protein anak disesuaikan secara ketat dengan usia, berat badan, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan spesifik masing-masing, mulai dari takaran sederhana seperti 10–15% dari total kebutuhan kalori harian, dengan sumber protein yang bervariasi dari nabati dan hewani yang lebih mudah dicerna.
“Gizi yang seimbang, protein tetap memegang peran sentral sebagai pilar pertumbuhan, bukan sebagai beban yang memaksanya bekerja di luar batas kemampuannya,” pungkasnya.
