ASIAWORLDVIEW – Masa liburan telah usai, dan hiruk-pikuk tahun ajaran baru mulai terasa di udara. Bagi sebagian anak, momen kembali ke sekolah adalah suasana yang menggembirakan, penuh dengan antisipasi bertemu teman-teman dan memulai petualangan belajar baru. Namun, bagi sebagian lainnya, transisi ini bisa terasa menakutkan, memicu kecemasan, bahkan ledakan emosi atau tantrum yang menguras energi seluruh keluarga.
Sebagai orang tua, peran kita bukan hanya sekadar menyiapkan tas dan seragam, tetapi juga menjadi penopang emosional yang kokoh bagi si kecil. Mempersiapkan mental anak untuk kembali ke sekolah membutuhkan pendekatan yang penuh empati, kesabaran, dan konsistensi, sebuah proses yang dimulai jauh sebelum bel pertama berbunyi.
Mengutip dari berbagai sumber, Rabu (22/7/2026), langkah yang paling krusial adalah membangun kembali rutinitas harian yang menyerupai jadwal sekolah secara bertahap. Mulailah dengan menggeser waktu tidur dan bangun tidur anak sekitar 15-30 menit lebih awal setiap hari, daripada mengubahnya secara drastis dalam semalam. Buatlah jadwal pagi yang menyenangkan: bangun dengan nyanyian ceria, sarapan bersama tanpa terburu-buru, dan waktu untuk bersiap diri tanpa tekanan.
Sering kali, kecemasan anak menjelang sekolah muncul dalam bentuk yang tidak terduga: rewel, malas bangun, sakit perut di pagi hari, atau bahkan tantrum yang meledak-ledak. Di balik perilaku itu, ada perasaan yang mungkin tidak mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Dengarkan tanpa menghakimi, validasi perasaan mereka, dan katakan bahwa semua emosi itu wajar. Anak yang merasa didengar dan dipahami akan lebih mudah menerima dukungan daripada anak yang merasa dihakimi atau diabaikan.
Baca Juga: Sunscreen, Tips Perlindungan Kulit Anak Saat Liburan
Salah satu cara paling ampuh untuk menumbuhkan semangat anak adalah dengan mengalihkan fokus mereka dari kekhawatiran ke hal-hal yang menyenangkan. Bantu anak mengingat kembali momen-momen indah di sekolah: bermain dengan sahabat di lapangan, pelajaran kesukaan mereka, atau kegiatan ekstrakurikuler yang membuat mereka bersemangat. Buatlah daftar “hal-hal keren” yang akan mereka lakukan di tahun ajaran baru.
Anak-anak belajar melalui pengalaman, dan simulasi adalah alat yang sangat efektif untuk mengurangi kecemasan menghadapi hal baru. Ajak anak melakukan “latihan sekolah” di rumah. Simulasi ini membantu anak membangun memori positif dan mengurangi elemen kejutan yang sering menjadi pemicu stres.
Setiap anak memiliki keunikan dan kekuatan masing-masing. Di tengah euforia “masuk sekolah,” jangan lupa untuk mengingatkan anak bahwa mereka istimewa apa adanya. Katakan, “Kamu pintar dengan caramu sendiri,” atau “Sekolah adalah tempat untuk menunjukkan bakatmu.” Hindari membandingkan dengan kakak, teman, atau tetangga, karena perbandingan hanya akan memicu rasa tidak aman.
Kuncinya adalah tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Ketika anak mulai merengek atau menangis, dekati mereka dengan tatapan lembut dan kata-kata yang menenangkan: “Kamu sedang marah, ya? Aku di sini menemani.” Alihkan perhatian mereka dengan aktivitas menyenangkan, seperti bermain peran menjadi guru dan murid, atau menceritakan kisah lucu tentang pengalaman sekolah orang tua dulu.
