ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dengan penguatan tipis, Selasa (1/9/2026), di awal perdagangan. Sebelumnya ditutup melemah pada akhir Agustus 2026.
Bank Indonesia menetapkan Kurs Referensi JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) pada level Rp17.746 per dolar AS, yang merupakan acuan resmi untuk transaksi antarbank. Untuk transaksi perbankan, sebagai gambaran, data e-Rate BCA pada 1 September 2026 mencatat kurs beli di Rp17.685 dan kurs jual di Rp17.775 per dolar AS. Perbedaan antara kurs acuan JISDOR dan kurs transaksi di bank mencerminkan margin keuntungan dan biaya operasional perbankan.
Perbedaan kecil pada angka di berbagai sumber disebabkan oleh perbedaan waktu pengambilan data dan platform yang digunakan, namun konsensus yang terlihat jelas adalah rupiah bergerak di zona hijau dengan penguatan yang tipis pada pembukaan perdagangan hari ini. Hingga pukul 09.26 WIB, rupiah tercatat di posisi Rp17.717 per dolar AS, menguat 0,03% atau 5 poin.
Meskipun penguatan yang terjadi relatif kecil dan bahkan tercatat stagnan di beberapa platform, ada beberapa faktor yang mendorong pergerakan positif rupiah di awal bulan September. Investor mengambil sikap hati-hati menantikan rilis dua data ekonomi domestik yang sangat krusial pada hari yang sama, yaitu data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.
Baca Juga: Risiko Regulatory Capture Ancam Reputasi Dagang RI, Mengapa?
Inflasi secara tahunan (year-on-year) diperkirakan merangkak naik dari 2,88% menjadi 3,13%, sementara neraca perdagangan diproyeksikan kembali mengalami defisit sekitar USD300 juta akibat lonjakan impor. Sikap tunggu dan lihat ini cenderung membatasi pergerakan rupiah yang terlalu tajam.
Penguatan rupiah juga diawali dari tren koreksi dolar AS di pasar global akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang oleh Pemerintah Amerika Serikat yang akan segera dimulai. Hal ini memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk bergerak menguat.
Pasar juga menantikan Rapat Paripurna DPR yang dijadwalkan membahas penetapan Destry Damayanti sebagai calon Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031 pada hari itu juga. Kepastian susunan pimpinan baru BI diharapkan dapat memberikan kejelasan kepada pasar mengenai kesinambungan kebijakan moneter dan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.
Meskipun ada sentimen positif, terdapat beberapa faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah dan menyebabkan pergerakannya cenderung datar. Penguatan dolar AS masih menjadi bayangan setelah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole yang cenderung hawkish.
Warsh menekankan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan rumah untuk membawa inflasi kembali ke target 2%, yang memperkuat pandangan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan. Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15-16 September kini mencapai 64%, meningkat signifikan dari sekitar 35% sebelumnya. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kembali naiknya harga minyak turut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pergerakan rupiah berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang di Asia yang justru melemah pada pagi hari, seperti Won Korea Selatan yang turun 0,22%, Ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,2%, dan Baht Thailand yang tertekan 0,11%.

