ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah hari ini, Senin (31/8/2026), menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang didominasi oleh sinyal kebijakan moneter The Fed yang hawkish serta eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Rupiah memulai perdagangan dengan kelemahan yang cukup signifikan di berbagai platform. Rupiah dibuka di kisaran Rp17.744 hingga Rp17.750 per dolar AS, melemah sekitar 0,28% hingga 0,32% atau 51-57 poin dibandingkan penutupan Jumat lalu di level Rp17.693 per dolar AS.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari itu tercatat di level Rp17.703 per dolar AS, yang sebenarnya masih menunjukkan penguatan 0,33% dari posisi Jumat sebelumnya di Rp17.762. Hal ini menunjukkan perbedaan antara kurs acuan BI dan pergerakan di pasar spot.
Baca Juga: Risiko Regulatory Capture Ancam Reputasi Dagang RI, Mengapa?
Sentimen terbesar datang dari pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, di simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8). Warsh menyatakan bahwa The Fed “masih memiliki banyak pekerjaan” jika inflasi tak kunjung mereda dan membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut. Pernyataan ini meningkatkan ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga pada September, mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan AS terhadap Iran. Hal ini mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent ke level USD90,3 per barel, meningkatkan kekhawatiran inflasi global dan semakin menekan rupiah.
Rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada pagi itu. Ringgit Malaysia melemah 0,20%, baht Thailand tertekan 0,13-0,16%, dan peso Filipina melemah 0,03-0,12%. Sementara itu, yen Jepang justru menguat 0,16%, yuan China naik 0,07%, dan dolar Singapura menguat 0,05%.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan terus tertekan dan bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan hari itu. Sementara itu, Bank Indonesia disebutkan terus mencermati volatilitas rupiah melalui instrumen operasi moneter untuk menjaga stabilitas di kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS.

