ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pembukaan yang mengejutkan di zona hijau pada Kamis (17/9/2026). Padahal pasar global sedang dilanda tekanan berat akibat keputusan Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%—kenaikan pertama sejak Juli 2023.
IHSG dibuka menguat 18,17 poin atau 0,28% ke level 6.455,03, naik dari penutupan hari sebelumnya di level 6.436,85. Dalam hitungan menit, indeks melesat lebih jauh: pada pukul 09.05 WIB, IHSG sudah berada di level 6.491,41, naik 54,56 poin atau 0,85%, dengan level tertinggi harian menyentuh 6.500,41 dan terendah di 6.450,93.
Data perdagangan mencatat 379 saham menguat, 150 saham melemah, dan 434 saham stagnan, dengan volume transaksi mencapai 1,944 miliar saham dan nilai transaksi Rp825,6 miliar. Penguatan ini terbilang luar biasa karena terjadi tepat sehari setelah IHSG ditutup melemah 0,38% disertai aksi jual bersih asing senilai Rp592 miliar, dengan saham yang paling banyak dilepas adalah BMRI, BUMI, BBCA, ADRO, dan ITMG.
Seluruh sektor saham bergerak kompak ke zona hijau, dipimpin oleh sektor energi (+1,35%), keuangan (+1,21%), dan bahan baku (+1,19%). Sektor kesehatan menguat tipis 0,25%, properti naik 0,64%, teknologi 0,47%, infrastruktur 0,80%, konsumer primer 0,93%, transportasi 0,73%, dan industri 0,70%. Di jajaran saham unggulan, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memimpin dengan kenaikan 2,76% ke Rp1.115, disusul PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang terapresiasi 2,64% ke Rp11.650, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menguat 1,41% ke Rp4.320. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga naik 1,37%, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 1,19% ke Rp6.400.
Baca Juga: BI Catat 65,77 Juta Pengguna QRIS, 96% UMKM Terserap Ekonomi Digital
Dari jajaran LQ45, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memimpin dengan pertumbuhan 4% ke Rp520, diikuti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang naik 2,78% ke Rp925. Pada akhir sesi I, IHSG ditutup menguat 26,75 poin atau 0,42% ke level 6.463,61, dengan sepuluh indeks sektoral menguat dan hanya sektor kesehatan yang tergelincir tipis 0,01%.
Meski pembukaan berjalan optimistis, sentimen eksternal yang pekat membayangi pergerakan IHSG sepanjang hari. Keputusan The Fed yang hawkish—dengan 16 dari 18 pejabat memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026—langsung mendorong Indeks Dolar AS (DXY) menembus level 100,252, tertinggi sejak 12 Agustus 2026, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menembus 5,004%, level tertinggi sejak Juli 2007. Kondisi ini meningkatkan daya tarik obligasi AS dibandingkan aset negara berkembang dan memicu perpindahan dana investor ke aset berdenominasi dolar.
Tekanan pasar turut diperbesar oleh memanasnya konflik di Timur Tengah, di mana kelompok Houthi disebut berhasil menguasai sejumlah wilayah dan pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis perdagangan minyak global, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan dan distribusi energi. Di sisi lain, bursa saham Asia bergerak bervariasi: Nikkei 225 naik 0,10%, KOSPI Korea Selatan menguat 0,21%, S&P/ASX 200 Australia naik 0,12%, sementara SSE Composite China turun 0,50% dan Hang Seng Hong Kong anjlok 1,30%.

