ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada Kamis (17/9/2026), dibuka melemah cukup dalam. Kondisi ini melanjutkan tren depresiasi yang telah berlangsung selama beberapa hari. Berbagai data dari platform keuangan menunjukkan angka pembukaan yang bervariasi, namun semuanya mengonfirmasi bahwa rupiah bergerak di kisaran Rp17.739 hingga Rp17.764 per dolar AS pada awal sesi.
Data Bloomberg mencatat rupiah dibuka melemah 0,28% atau 50 poin ke level Rp17.746. Sementara itu, ANTARA melaporkan rupiah melemah 43 poin atau 0,24% menjadi Rp17.739 dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.696. CNN Indonesia mencatat pelemahan yang lebih dalam, yakni 68 poin atau 0,38% ke level Rp17.764. Kontan juga melaporkan rupiah spot berada di Rp17.763, melemah 0,38%, sementara Kompas mencatat posisi Rp17.750 dengan pelemahan 54 poin atau 0,31%. Meskipun terdapat variasi pada angka pembukaan, konsensusnya jelas: rupiah sedang berada di bawah tekanan yang signifikan.
Pemicu utama pelemahan rupiah adalah keputusan Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00% —kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir. Keputusan ini diumumkan pada Rabu, 16 September 2026 waktu setempat, dan langsung memberikan tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Namun, yang menjadi perhatian pasar adalah nada kebijakan The Fed yang lebih hawkish dari perkiraan. Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyatakan bahwa inflasi AS masih “terlalu tinggi dan sudah terlalu lama tinggi,” serta membuka peluang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut pada akhir tahun. Sinyal hawkish ini mendorong Indeks Dolar AS (DXY) menembus level 100, tepatnya di 100,31–100,33, level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir.
Dampak dari penguatan dolar AS tidak hanya dirasakan oleh rupiah, tetapi juga oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia. Data dari Kontan menunjukkan bahwa ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam yakni 0,56%, disusul won Korea Selatan yang melemah 0,42%, rupiah 0,38%, dolar Taiwan 0,26%, baht Thailand 0,14%, peso Filipina 0,13%, dan yuan China 0,04%.
Pola ini mengindikasikan bahwa tekanan dolar AS bersifat merata di kawasan Asia, bukan hanya fenomena spesifik Indonesia. Sementara itu, beberapa mata uang Asia lainnya justru menguat, seperti yen Jepang yang naik 0,06% dan dolar Singapura yang menguat 0,03%. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor dua tahun naik ke level 4,74%, sedangkan tenor 10 tahun berada di 5,02%, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dalam waktu yang lebih lama.
Baca Juga: Rupiah Terkoreksi ke Rp17.737, Tekanan Eksternal Dominan
Dari sisi domestik, pasar kini menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan berlangsung pada pekan yang sama. Analis Pasar Uang dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan bahwa pergerakan rupiah masih rawan melemah terhadap dolar AS. Menurutnya, terdapat beberapa skenario yang mungkin diambil BI untuk menghadapi kenaikan suku bunga The Fed. Pertama, BI dapat menaikkan suku bunganya sendiri, namun langkah ini berpotensi berdampak negatif terhadap likuiditas dan pasar. Kedua, BI dapat bermain pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk mendorong likuiditas masuk ke perbankan.
Proyeksi pergerakan rupiah untuk hari itu sangat beragam di kalangan analis. Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS, dengan risiko menguji level Rp18.000 jika dolar AS dan yield US Treasury terus naik. Bank Indonesia diperkirakan akan terus mengoptimalkan kebijakan stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF), serta menggunakan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah.

