ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak di zona merah pada Rabu (16/8/2026). Kondisi ini melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung selama beberapa hari sebelumnya. Berbagai data dari platform keuangan menunjukkan angka pembukaan yang bervariasi, namun semuanya mengonfirmasi bahwa rupiah tertekan di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.737 per dolar AS.
Rupiah dibuka melemah 28 poin atau 0,16% ke level Rp17.722, sementara Refinitiv menunjukkan posisi Rp17.700 dengan depresiasi 0,11%. Kontan melaporkan rupiah spot melemah 0,23% ke Rp17.735 pada pukul 09.11 WIB, sedangkan RTI Bloomberg mencatat pelemahan 0,24% ke Rp17.737.
Tekanan eksternal menjadi faktor dominan yang membebani pergerakan rupiah pada hari itu. Pasar sedang menantikan keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia, setelah rapat kebijakan FOMC yang berlangsung pada 15-16 September 2026.
Baca Juga: Resmi Dilantik, Suahasil Nazara Tegaskan Lanjutkan Koordinasi dengan KSSK
Berdasarkan perhitungan pasar, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 85-90%, yang jika terealisasi akan menjadi kenaikan pertama The Fed dalam lebih dari dua tahun. Ekspektasi ini diperkuat oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Agustus yang menunjukkan kenaikan 0,4% secara bulanan, sementara CPI inti naik 0,3%—lebih tinggi dari perkiraan pasar. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberikan tenaga kepada dolar AS, dengan Indeks Dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,12% ke posisi 99,730.
Eskalasi konflik geopolitik di Iran juga menjadi faktor yang memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven. Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS didorong oleh perang yang belum kunjung usai di Iran, yang diperkirakan dapat mengganggu pasokan minyak global hingga 4-5%. Kondisi ini mendorong pelaku pasar memburu dolar AS, yang pada gilirannya menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Pelemahan tidak hanya dialami rupiah; sejumlah mata uang regional juga tertekan, seperti baht Thailand yang melemah 0,23%, ringgit Malaysia turun 0,16%, yen Jepang terkoreksi 0,51%, dan won Korea Selatan melemah 0,44%. Pola ini mengindikasikan bahwa tekanan dolar AS bersifat merata di kawasan Asia, bukan hanya fenomena spesifik Indonesia.
Dari sisi domestik, sentimen sebenarnya relatif positif. Penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru dinilai akan memperkuat kepercayaan pasar terhadap disiplin fiskal dan kerangka defisit di bawah 3%. Sosok yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan ini dianggap memiliki rekam jejak yang kuat dalam menjaga stabilitas fiskal, sehingga sedikit menahan laju pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Namun, sentimen positif ini belum cukup untuk membalikkan arah rupiah di tengah derasnya tekanan eksternal. Ibrahim Assuaibi menilai bahwa Suahasil harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia.
Ke depan, arah rupiah sangat bergantung pada keputusan The Fed dan pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh. Jika The Fed menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi namun dengan nada yang lebih dovish—tidak mengisyaratkan kenaikan lanjutan—dolar berpotensi kehilangan sebagian tenaganya, dan rupiah bisa mendapatkan ruang untuk rebound. Sebaliknya, jika The Fed mengisyaratkan jalur kenaikan suku bunga yang lebih agresif untuk menahan inflasi akibat perang dan lonjakan harga energi, tekanan terhadap rupiah diprediksi akan semakin berat. Pasar juga menghadapi kemungkinan kecil The Fed mempertahankan suku bunga; jika ini terjadi, dolar dapat melemah lebih dari 1% karena berlawanan dengan perkiraan mayoritas pelaku pasar.

