IHSG Dibuka Menguat: Sektor Energi dan Infrastruktur Dorong Indeks ke Zona Hijau

Ilustrasi pergerakan harga saham.

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membuka perdagangan di zona hijau, Jumat (7/8/2026). Ini melanjutkan tren positif meskipun pelaku pasar masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik menjelang akhir pekan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di level 6.352,38 atau naik 8,67 poin (0,14%) dari posisi penutupan hari sebelumnya di 6.343,71. Beberapa sumber mencatat angka pembukaan yang sedikit lebih tinggi, dengan IHSG menyentuh level 6.354,58 hingga 6.372,533 dalam beberapa menit pertama perdagangan. Pada awal sesi, indeks sempat bergerak dalam rentang 6.347–6.377, menunjukkan dinamika perdagangan yang cukup aktif. Volume transaksi pada pembukaan tercatat mencapai 6,4 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp2,1 triliun.

Penguatan IHSG pada hari ini didorong oleh mayoritas sektor yang berada di zona hijau. Sektor energi memimpin kenaikan dengan penguatan 1,05%, disusul sektor infrastruktur (0,92%) dan sektor properti (0,80%). Dari kelompok saham unggulan LQ45, sejumlah emiten mencatatkan kenaikan signifikan. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sama-sama menguat 3,35% masing-masing ke level Rp185 dan Rp9.250. Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 1,16% ke Rp1.305 dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menguat 1,13% ke Rp2.680. Di sisi lain, tekanan datang dari PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang turun 2,07% ke Rp1.655 dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang terkoreksi 1,42%.

Dari sisi eksternal, bursa saham Asia-Pasifik mayoritas dibuka menguat, dengan Nikkei 225 Jepang naik lebih dari 0,2%, Kospi Korea Selatan bertambah 0,89%, dan Kosdaq naik 0,6%. Optimisme investor ditopang oleh harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz yang berpotensi meredakan tekanan harga minyak dunia, serta penantian data perdagangan China.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Pelaku pasar tetap mewaspadai sentimen dari Wall Street yang ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya, seiring penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjelang rilis data non-farm payrolls (NFP) yang menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Fed. Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran tengah mengkaji pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis cadangan devisa (cadev) Indonesia periode Juli 2026 yang diperkirakan bertahan di kisaran USD145,6 miliar. Selain itu, pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk mendukung daya beli masyarakat, mencakup bantuan sosial, insentif transportasi, dukungan sektor pariwisata, pelatihan tenaga kerja, serta menjaga harga BBM tetap stabil hingga akhir tahun.

Pasar juga mencermati wacana IPO sejumlah BUMN seperti Pelindo, Pegadaian, Pupuk Indonesia, dan Angkasa Pura yang disiapkan Danantara sebagai bagian dari transformasi BUMN. Sementara itu, calon Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan diputuskan pekan ini juga menjadi sentimen utama karena dinilai menentukan arah kebijakan moneter dan stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Para analis memproyeksikan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.320–6.330, peluang melanjutkan penguatan menuju 6.377 hingga 6.420 masih terbuka. Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut hingga menembus area uptrend dan 6.320, IHSG berisiko melanjutkan koreksi sehat untuk menguji area EMA50 sebelum kembali melanjutkan tren naik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *