ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat atau USD, Jumat (7/8/2026), menunjukkan pergerakan yang beragam dengan kecenderungan melemah setelah sempat menguat di awal sesi. Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah dibuka dengan penguatan tipis 0,03% ke posisi Rp17.905 per dolar AS, melanjutkan tren positif selama dua hari berturut-turut.
Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama. Pada pukul 09.00 WIB, rupiah berbalik melemah ke level Rp17.931–Rp17.935 per dolar AS. Data dari Bloomberg bahkan mencatat pelemahan lebih dalam hingga 18 poin (0,10%) ke posisi Rp17.941 per dolar AS. Secara keseluruhan, mayoritas sumber mengonfirmasi bahwa rupiah ditutup melemah sekitar 0,07% di level Rp17.935 per dolar AS pada akhir perdagangan.
Pelemahan rupiah pada hari ini terutama didorong oleh rebound harga minyak mentah yang dipicu oleh kembali memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Beredar laporan bahwa Iran berpotensi melarang kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global dan mendorong harga minyak kembali naik.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Kenaikan harga minyak ini dapat kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi di Amerika Serikat dan mempertahankan daya tarik dolar AS sebagai aset safe haven. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,956, yang turut menambah tekanan pada rupiah.
Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati pengumuman posisi cadangan devisa Indonesia periode Juli 2026 yang dijadwalkan rilis pada hari yang sama. Data ini menjadi perhatian di tengah volatilitas global dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor dan masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional. Posisi cadangan devisa yang tetap kuat dapat menjaga kepercayaan terhadap rupiah dan obligasi pemerintah.
Sementara penurunan yang tajam dapat menunjukkan meningkatnya kebutuhan penggunaan devisa, termasuk untuk stabilisasi nilai tukar. Meskipun rupiah melemah, para analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah tidak akan terlalu besar.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini, dengan arah pergerakan masih dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia.

