ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi tajam pada Rabu (16/9/2026). Kondisi ini dipicu oleh dua badai besar yang menghantam pasar secara bersamaan: kegagalan rancangan regulasi kripto Clarity Act di Senat Amerika Serikat dan penantian keputusan suku bunga The Federal Reserve.
Berdasarkan data dari berbagai platform, harga Bitcoin terperosok ke level USD75.577 hingga USD75.644, turun sekitar 3,04% hingga 3,38% dalam 24 jam terakhir. Sepanjang sepekan, harga BTC telah terpangkas sekitar 4,09% hingga 4,11%, mencerminkan tekanan jual yang persisten. Pergerakan ini menandai pergeseran signifikan dari reli musim panas yang sebelumnya mendorong Bitcoin menembus level USD82.000 pada awal September. Kapitalisasi pasar kripto global ikut anjlok 3,36% menjadi USD2,58 triliun. Sementara Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar juga jatuh 3,87%.
Pemicu utama koreksi: Kegagalan Clarity Act di Senat AS. Rancangan undang-undang yang bertujuan membentuk kerangka regulasi komprehensif bagi industri aset digital ini gagal melewati pemungutan suara prosedural (cloture motion) pada Selasa, 15 September 2026. Hasil voting menunjukkan hanya 49 suara mendukung dan 50 menolak, jauh dari ambang batas 60 suara yang dibutuhkan untuk melanjutkan pembahasan ke tahap berikutnya. Reuters melaporkan bahwa empat senator dari Partai Republik ikut menolak rancangan tersebut bersama seluruh senator Demokrat, mencerminkan perpecahan politik yang dalam terkait regulasi kripto.
Baca Juga: Harga Bitcoin Bertahan Jelang Pemungutan Suara CLARITY Act
Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi industri kripto yang sebelumnya berharap Clarity Act memberikan kepastian hukum bagi pasar aset digital AS. Dampaknya langsung terasa: XRP anjlok hingga 12% karena aset ini sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi regulasi AS, sementara saham Coinbase merosot sekitar 10% karena bisnis perdagangan, kustodi, dan yield-nya sangat bergantung pada kerangka regulasi AS. Saham Strategy, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, juga ditutup turun 5,4%. Prediction market Polymarket bahkan menunjukkan peluang Clarity Act menjadi undang-undang pada 2026 anjlok dari sekitar 30% sebelum voting menjadi satu digit persen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang melonjak. Pasar derivatif menunjukkan probabilitas lebih dari 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00% pada pertemuan FOMC yang berlangsung 15-16 September 2026. Ekspektasi ini diperkuat oleh imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menembus level 5%, level tertinggi sejak 2007, sementara tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,37%. Kenaikan yield ini meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tanpa imbal hasil seperti Bitcoin, sehingga menekan daya tariknya di mata investor institusional.
Selain itu, harga minyak mentah Brent yang ditutup di sekitar USD108,75 per barel (+2,9%) akibat eskalasi konflik AS-Iran dan gangguan Selat Hormuz semakin memperkuat kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi pengetatan moneter yang lebih agresif. Kombinasi yield tinggi, minyak mahal, dan ekspektasi suku bunga yang naik menciptakan lingkungan makro yang sangat tidak bersahabat bagi aset berisiko.
Bitcoin kini berada di zona support kritis USD75.000–USD76.500, yang sebelumnya diidentifikasi sebagai area dengan aktivitas pembelian yang kuat. Level USD75.000 menjadi garis pertahanan terakhir; jika ditembus, analis memperingatkan potensi peningkatan volatilitas dan tren penurunan baru. Di sisi atas, zona resistance USD80.000–USD83.000 menjadi tembok yang harus ditembus untuk mengonfirmasi bahwa Bitcoin telah menemukan dasar dalam koreksi ini.
Di tengah tekanan ini, aliran dana institusional justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Data dari BlackRock melalui Arkham Intelligence mengungkapkan bahwa klien ETF Bitcoin spot IBIT telah mengakumulasi USD134,35 juta dalam Bitcoin, dengan total akumulasi 20 hari terakhir mencapai USD1,08 miliar.
Prospek ke depan sangat bergantung pada keputusan The Fed. Pasar saat ini berada di titik kritis: keputusan suku bunga akan menentukan apakah kondisi makro akan terus menekan valuasi aset berisiko. Jika The Fed menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi namun dengan nada dovish yang tidak mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut, pasar mungkin akan mengalami relief rally —skenario “sell the rumor, buy the news”.

