ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tekanan jual yang signifikan pada Kamis (10/9/2026), meskipun sempat mencoba bangkit dari level terendahnya. Berdasarkan data dari berbagai platform pemantauan aset kripto, Bitcoin bergerak di bawah level psikologis US$80.000, dengan kapitalisasi pasar global kripto turun 0,93% dalam 24 jam terakhir menjadi USD2,66 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar juga jatuh 1%, sementara Ethereum (ETH) melemah 1,2% ke USD2.466 dan Binance Coin (BNB) ambruk 4,5% ke USD721.
Tekanan terhadap Bitcoin pada hari itu berasal dari kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik yang saling memperkuat. Pertama, harga minyak mentah Brent resmi menembus level USD100 per barel dan ditutup pada US$101,21 per barel, sementara WTI ditutup di USD96,05 per barel. Serangan Amerika Serikat dan Iran yang menargetkan kapal tanker terus meningkat, mengubah risiko pasokan di Selat Hormuz dari yang sebelumnya diperkirakan hanya gangguan menjadi premi risiko energi yang lebih nyata.
Selain itu, kondisi ini juga terjadi akibat terdapat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level sekitar 4,85% dalam perdagangan intraday, level tertinggi sejak November 2023. Meskipun Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk membeli kembali hingga US$6 miliar obligasi tenor 10-20 tahun, langkah ini gagal menahan kenaikan yield. Kenaikan yield dan harga minyak yang tinggi secara bersama-sama menekan aset-aset berisiko, dengan Dow Jones turun 0,77%, S&P 500 turun 0,48%, dan Nasdaq turun 0,64%.
Baca Juga: Pasar Kripto Menguat Seiring Lonjakan Altcoin Utama
Penguatan yen Jepang yang berlanjut terhadap dolar AS memicu kekhawatiran terhadap unwinding yen carry trade—strategi investor yang meminjam dana dalam yen berbunga rendah untuk ditempatkan pada aset berimbal hasil lebih tinggi. Yen kini berada di sekitar 153 per dolar AS dan telah menguat tajam sejak awal September, didorong oleh ekspektasi Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga serta sinyal dukungan pemerintah AS terhadap penguatan yen. Chief Investment Strategist Saxo, Charu Chanana, mengatakan bahwa penguatan yen dapat memberikan tekanan terhadap posisi short yen yang masih besar dan mempercepat proses unwinding carry trade. USD/JPY menjadi salah satu indikator kondisi likuiditas global yang dapat memengaruhi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Dari perspektif teknikal, Bitcoin masih bergerak dalam kisaran konsolidasi yang ketat. KuCoin mencatat bahwa BTC masih mengamati rentang USD77.000-USD78.000 sebagai support jangka pendek, dengan 75K–76K sebagai zona pertahanan penurunan yang lebih penting. Di sisi atas, USD79,500-USD80.000 masih menjadi area resistance pertama; hanya pergerakan yang bertahan di atas 80K dan menembus sekitar 82K yang akan mengonfirmasi bahwa struktur pasar tingkat tinggi sedang menguat kembali di tengah tekanan makro.
Sementara itu, data dari Gate Research menunjukkan BTC turun sekitar 3,78% selama tujuh hari terakhir ke level US$78.192, dengan pangsa pasar Bitcoin (dominasi) naik ke 58,57%—mengindikasikan bahwa altcoin mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan Bitcoin. Indeks Fear & Greed berada di angka 69 (naik dari 66 sebelumnya), yang masih menunjukkan sentimen “greed” meskipun ada koreksi harga.
Pasar kini menanti rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan malam ini, yang menjadi penting karena pertanyaan kunci pasar telah bergeser dari “apakah minyak akan menembus US$100?” menjadi “berapa lama minyak US$100 dapat bertahan, dan apakah akan memicu inflasi inti?”. Data ini akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter The Federal Reserve dalam pertemuan FOMC pada 15-16 September mendatang.
Meskipun terkoreksi dalam jangka pendek, kinerja Bitcoin dalam sepekan masih mencatat kenaikan 1,61%, menunjukkan bahwa koreksi saat ini masih terlihat sebagai bagian dari konsolidasi alami. Namun, jika level support 77K gagal dipertahankan, risiko penurunan lebih dalam menuju zona 75K–76K akan semakin terbuka. Sebaliknya, kemampuan Bitcoin untuk kembali bertahan di atas 80K dan menembus 82K akan menjadi sinyal bullish yang kuat di tengah ketidakpastian makroekonomi global yang masih membayangi.

