ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif pada Kamis (10/9/2026), dengan kecenderungan menguat terbatas. Pergerakan ini menjadi kelanjutan dari kinerja positif sehari sebelumnya, ketika rupiah ditutup menguat tajam 0,69% atau naik 121 poin ke level Rp17.511 per dolar AS—posisi terbaiknya dalam empat bulan terakhir.
Berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Rupiah juga tercatat menguat 0,37% ke level Rp17.552 per dolar AS sebelumnya.
Pergerakan rupiah pada hari itu diwarnai oleh sentimen yang saling bertolak belakang dari kawasan global. Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menilai rupiah menghadapi tarik-menarik antara pelemahan dolar AS di satu sisi dan kenaikan harga minyak serta yield US Treasury di sisi lain.
Pelemahan Dolar AS (DXY) menjadi faktor penopang utama bagi rupiah. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 98,784 pada pukul 09.00 WIB. Posisi ini berada di sekitar level terendahnya dalam hampir dua pekan, terutama karena dolar terus melemah terhadap yen Jepang.
Yen Jepang berada di dekat level terendah dalam tujuh bulan terhadap dolar AS, didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17-18 September. Penguatan yen sekitar 4% sepanjang September turut menahan pergerakan DXY dan secara tidak langsung memberi ruang bagi mata uang berkembang seperti rupiah untuk menguat.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi Indonesia Siap Tumbuh 6%
Namun, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi faktor penekan yang signifikan. Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi. Pasukan AS juga menyerang sejumlah kapal tanker minyak Iran, sementara Teheran menghantam pangkalan militer AS di Yordania.
Ketegangan tersebut membuat harga minyak Brent melonjak 3,36% dan ditutup di US$101,21 per barel—posisi tertinggi sejak Mei 2026. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor, yang berpotensi menambah permintaan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali naik 5,4 basis poin ke 4,84%. Kenaikan yield ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish The Federal Reserve dalam menghadapi risiko inflasi yang dipicu oleh harga minyak tinggi. Yield obligasi Indonesia (INDON) 10 tahun berada di 5,76%, sementara INDOGB 10 tahun di 7,08%. Meskipun selisih yield masih cukup lebar, investor tetap harus menanggung risiko kurs dalam mengempit obligasi ini.
Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi memberikan bantalan positif bagi rupiah. Analis Rully Nova, menyatakan bahwa penguatan rupiah dipengaruhi oleh arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah. Dana asing yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) membantu menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan valas di pasar domestik.
Selain itu, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi sekitar US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dari USD145,3 miliar pada Juli. Kenaikan ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Posisi cadangan devisa yang setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor ini dinilai mampu menopang ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Data penjualan ritel dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Indeks Keyakinan Konsumen mencapai 118,5—lebih tinggi dibandingkan Juli 2026 dan menjadi yang terbaik sejak Januari 2026. Sementara itu, penjualan ritel pada Agustus 2026 tercatat melonjak mencapai 7,7% di 83.422 unit, memberikan gambaran bahwa aktivitas konsumsi masyarakat, khususnya di sektor otomotif, terus menguat. Kenaikan ini menjadi sinyal penting bagi prospek pertumbuhan ekonomi nasional dan turut menopang sentimen positif terhadap rupiah.

