ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan volatilitas yang tinggi pada Kamis (10/9/2026). Indeks dibuka menguat, sempat menyentuh level tertinggi di awal sesi, namun tidak mampu mempertahankan momentumnya dan berbalik melemah di tengah tekanan sentimen eksternal yang membayangi pasar. Pergerakan ini memperpanjang fase konsolidasi yang telah berlangsung sejak awal pekan, di tengah ketidakpastian global yang masih belum mereda.
IHSG memulai perdagangan dengan langkah positif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks dibuka menguat 9,97 poin atau 0,15% ke level 6.688,17. Sumber lain mencatat pembukaan di level 6.688,18 dengan penguatan yang hampir sama. Bahkan, tidak lama setelah pembukaan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.712,50—sebuah angka yang menandakan upaya serius untuk menembus level psikologis 6.700.
Pada menit-menit awal perdagangan, sentimen pasar terlihat cukup positif. Sebanyak 280 saham menguat, sementara 142 saham melemah dan 255 saham stagnan. Volume perdagangan pada awal sesi tercatat mencapai 3,14 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp2,14 triliun. Penguatan ini didukung oleh mayoritas sektor yang bergerak di zona hijau, termasuk energi, konsumer siklikal, bahan baku, infrastruktur, properti, keuangan, konsumer non-siklikal, teknologi, dan kesehatan. Hanya sektor transportasi dan industri yang tercatat melemah pada awal perdagangan.
Namun, momentum positif ini tidak bertahan lama. Sekitar pukul 09.23 WIB, IHSG berbalik arah ke zona merah, melemah 8,84 poin atau 0,13% ke level 6.669,36, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level 6.678,20. Level terendah harian tercatat di 6.666,58, sementara jumlah saham yang melemah meningkat menjadi 321 saham, dengan hanya 214 saham yang masih bertahan di zona hijau dan 428 saham stagnan. Volume perdagangan hingga pukul 09.23 WIB mencapai 8,681 miliar saham dengan nilai transaksi Rp5,323 triliun dan frekuensi 534.200 kali transaksi.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh di Tengah Bencana Alam
Meskipun IHSG secara keseluruhan berbalik melemah, beberapa sektor masih mencatatkan kinerja positif. Tiga sektor dengan kenaikan terbesar pada awal sesi adalah IDX Technology yang menguat 1,30%, IDX Energy naik 1,03%, dan IDX Basic Materials tumbuh 0,59%. Penguatan sektor energi dan bahan baku tidak terlepas dari lonjakan harga komoditas, terutama minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel dan batu bara yang turut menguat.
Di jajaran saham LQ45, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi top gainer dengan kenaikan 6,91% ke Rp1.005 per saham. Saham ini melesat bak roket seiring dengan sentimen positif di sektor energi dan logam mulia. Disusul oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang naik 2,61% ke Rp12.775, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menguat 2,19% ke Rp3.270.
Di sisi lain, sejumlah saham menjadi pemberat indeks. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) mencatat penurunan terbesar di LQ45 dengan koreksi 1,49% ke Rp990, diikuti oleh PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang melemah 0,91% ke Rp545, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 0,72% ke Rp690.
Sementara itu, di luar LQ45, beberapa saham mencatatkan kenaikan signifikan. PT Victoria Investama Tbk (VICO) memimpin top gainers dengan lonjakan 19,25% ke Rp192. PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) melonjak 15,58% ke Rp230, dan PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) menguat 12,86% ke Rp158.
Tekanan utama yang membebani IHSG pada hari itu berasal dari sentimen eksternal yang kompleks. Harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas level psikologis US$100 per barel menjadi sorotan utama. Brent dilaporkan melonjak 3,4% menjadi USD101,21 per barel.
Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 3,3% menjadi USD96,05 per barel—keduanya mencatat level penutupan tertinggi sejak Mei 2026. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak ini menjadi perhatian investor karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan mempersulit prospek pelonggaran kebijakan moneter. Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga energi dapat memperlebar defisit neraca perdagangan dan meningkatkan kebutuhan valuta asing, yang pada gilirannya menekan stabilitas makroekonomi.
Dampaknya terasa pada bursa saham Asia-Pasifik yang bergerak melemah pada perdagangan Kamis. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,62%, Kospi Korea Selatan melemah 0,24%, dan indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terkoreksi 1,36%. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang juga turun 1%, mencerminkan aksi investor yang mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Dari dalam negeri, sejumlah data ekonomi memberikan bantalan positif bagi pasar. Data ekonomi yang dirilis sehari sebelumnya memperlihatkan perbaikan permintaan di China dan Indonesia, sementara pertumbuhan tenaga kerja swasta Amerika Serikat masih terbatas. Perbaikan permintaan domestik ini menjadi sinyal positif bagi prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Pasar juga menantikan rilis data penjualan ritel Indonesia untuk periode Juli 2026 yang akan diumumkan pada hari itu. Analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan data tersebut akan turun 3,3% YoY. Meskipun demikian, data ini tetap menjadi perhatian karena memberikan gambaran tentang kekuatan konsumsi rumah tangga, yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Selain itu, rencana program rekening gratis dari pemerintah turut menjadi perhatian pasar. Program ini berpotensi memperluas inklusi keuangan dan basis nasabah perbankan, yang dapat menjadi katalis positif jangka panjang bagi sektor keuangan. Di sisi lain, investor juga mencermati keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan pada hari itu, serta data inflasi produsen (PPI) dan klaim pengangguran AS yang akan dirilis malam harinya.

