ASIAWORLDVIEW – Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah dan perang dagang yang belum mereda, Asia Tenggara muncul sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi baru. Di antara negara-negara kawasan tersebut, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi tujuan eksploitasi sumber daya alam atau pasar konsumen pasif. Kini, negeri dengan populasi 284,7 juta jiwa ini tengah memasuki babak baru yang lebih strategis: siklus pertumbuhan industri berbasis nilai tambah.
“Ini menjadi sebuah transformasi struktural yang mengubah wajah ekonomi domestik dan posisinya dalam rantai pasok global,” sebut Maulana Wiga, Chairman Asosiasi Industri Startup Indonesia (STARFINDO) yang baru terpilih pada Kamis (3/9/2026) kepada Asia World View.
Berbeda dengan era sebelumnya yang mengandalkan ekspor komoditas mentah, Indonesia saat ini gencar membangun ekosistem industri terintegrasi yang mencakup teknologi, komponen, sistem energi, pemrosesan, layanan, hingga ekspor regional. Data dari kuartal I 2026 menjadi bukti empiris dari pergeseran ini, di mana sektor industri manufaktur menyumbang 19,07% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini mengonfirmasi bahwa sektor riil—bukan ekstraktif—telah menjadi tulang punggung ekonomi nasional, menandakan bahwa kebijakan hilirisasi dan industrialisasi mulai menuai hasil yang terukur.
Baca Juga: Maulana Wiga Wakili Indonesia Berkunjung ke Shenzhen, Mengulik Kecanggihan Tuan Rumah APEC 2026
Dari sisi penanaman modal, respons pasar terhadap kebijakan baru ini terbilang sangat positif. Realisasi investasi sepanjang tahun 2025 menembus angka Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7% secara tahunan dan melampaui target yang ditetapkan pemerintah hingga 101,3%.
“Kalau melihat dari data yang kita raih, ini mencerminkan perubahan fundamental dalam cara investor memandang Indonesia. Investor global melihatnya bukan hanya sebagai tujuan penjualan produk jadi, tetapi sebagai basis produksi dan inovasi. Mereka mulai menyadari bahwa keuntungan jangka panjang tidak hanya terletak pada akses terhadap sumber daya alam, tetapi pada kemampuan untuk membangun fasilitas manufaktur, pusat riset dan pengembangan (litbang), serta integrasi rantai pasok di dalam negeri,” ia menambahkan.
Investor juga dituntut untuk melakukan lokalisasi kapabilitas secara menyeluruh—bukan hanya dalam hal penjualan, tetapi juga produksi, pengadaan komponen, hingga penelitian yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen lokal. Hanya dengan pendekatan ini, sebuah korporasi dapat selaras dengan kebijakan industri pemerintah yang semakin protektif terhadap kepentingan domestik dan sekaligus memenangkan hati konsumen Indonesia yang semakin kritis dan berdaya beli tinggi.
Pemerintah Indonesia saat ini mengarahkan kebijakan pada integrasi antara teknologi, energi, dan layanan sebagai pilar utama. Hal ini membuka peluang besar bagi perusahaan domestik dan multinasional untuk berpartisipasi dalam berbagai sektor strategis, mulai dari ekosistem kendaraan listrik (EV) yang memanfaatkan cadangan nikel terbesar dunia, hingga pengembangan pusat data dan kecerdasan buatan (AI) yang didukung oleh sumber energi hijau.
