ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD, Senin (27/7/2026), bergerak melemah di tengah berbagai sentimen yang membayangi pasar keuangan domestik. Pelemahan ini terjadi di awal pekan, dipicu oleh kabar mengejutkan yang mengguncang pasar: pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang diumumkan pada pagi hari.
Peristiwa ini langsung memicu respons negatif dari pelaku pasar. Meskipun pelemahan bervariasi tergantung sumber data dan waktu pelaporan, secara umum rupiah bergerak di kisaran yang semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Rupiah mengalami tekanan yang cukup signifikan sepanjang sesi, dimulai dengan pembukaan yang melemah ke level Rp17.969 per dolar AS—turun 6 poin atau 0,03 persen dari penutupan akhir pekan lalu—dengan beberapa sumber mencatat rentang pembukaan di Rp17.972 hingga Rp17.973. Pelemahan ini terus berlanjut, di mana menjelang pukul 10.00 WIB rupiah tercatat di posisi Rp17.972, dan sekitar pukul 10.21 WIB semakin mendekati level psikologis kritis dengan menyentuh angka Rp17.994 per dolar AS, terdepresiasi 31 poin atau 0,17 persen.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Puncak tekanan terjadi pada pukul 10.30 WIB ketika rupiah untuk pertama kalinya dalam sesi tersebut menembus level Rp18.000, tepatnya di posisi Rp18.001 per dolar AS—melemah 0,21 persen dari penutupan Jumat. Akhirnya sedikit berbalik ke Rp17.976 pada pukul 11.19 WIB dengan pelemahan 13 poin atau 0,07 persen.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang yang cukup lebar, mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar dengan posisi terendah menyentuh Rp18.001 dan posisi tertinggi berada di kisaran Rp17.960 saat pembukaan.
Sentimen negatif yang mendorong pelemahan ini terutama berasal dari faktor internal berupa pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang diumumkan pada pagi hari, yang menciptakan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter ke depan di tengah kondisi ekonomi yang masih rapuh.
Bank Indonesia merespons cepat dengan menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara dan menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sistem pembayaran, dan sistem keuangan, namun pasar masih menunggu kepastian lebih lanjut menjelang proses pemilihan gubernur definitif.

