Bos Indodax: Bitcoin Mulai Menguat, Investor Institusi Kembali Masuk Lewat ETF

Kripto

ASIAWORLDVIEW – Pekan ketiga Juli 2026 menjadi titik balik yang menarik bagi pasar aset kripto di Indonesia. Kondisi ini ditandai dengan penguatan harga Bitcoin yang dinilai oleh para pelaku pasar sebagai sinyal pulihnya sentimen investor terhadap aset digital.

“Harga Bitcoin di platformnya pada periode tersebut tercatat menguat hingga sekitar Rp1,18 miliar per koin. Momen ini berpotensi menjadi salah satu faktor yang mendorong pergerakan harga Bitcoin ke depan, meskipun masih diperlukan konfirmasi dari berbagai indikator lain,” sebut CEO Indodax, William Sutanto, Kamis (23/7/2026).

Penguatan harga ini berjalan seiring dengan data positif dari produk Bitcoin Spot Exchange-Traded Fund (ETF) di Amerika Serikat, yang menjadi barometer utama minat investor institusi. Berdasarkan data dari SoSoValue, ETF Bitcoin mencatatkan net inflow (arus dana masuk bersih) sebesar USD75,7 juta, atau sekitar Rp1,36 triliun, sepanjang periode perdagangan 13–17 Juli 2026. Capaian ini sekaligus memperpanjang tren positif arus dana masuk selama dua pekan berturut-turut.

“Lebih menarik adalah dinamika di balik angka tersebut. Pekan itu sempat dimulai dengan tekanan besar, di mana ETF Bitcoin mencatat arus keluar (outflow) sebesar US$424,7 juta pada awal pekan,” ia menambahkan.

Baca Juga: Industri Kripto Ragukan Pengesahan Kejelasan RUU 2025

Namun, situasi berbalik secara drastis dalam empat hari perdagangan berikutnya, di mana arus dana masuk secara konsisten mengalir dengan nilai kumulatif mencapai sekitar USD500,4 juta. Pembalikan ini mengakhiri tren dominasi tekanan jual yang berlangsung hampir dua bulan, menjadikannya sebuah titik balik yang krusial bagi sentimen pasar.

“Kembalinya arus dana ini menjadi salah satu indikasi mulai pulihnya sentimen investor institusi terhadap Bitcoin, setelah beberapa bulan sebelumnya mengalami tekanan arus keluar yang cukup signifikan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa ETF merupakan instrumen strategis bagi investor institusi untuk mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin tanpa harus mengelola aset digital secara langsung. Oleh karena itu, fluktuasi arus dana pada ETF kerap menjadi barometer penting untuk membaca arah pasar dan sentimen investor besar.

Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa hal ini belum dapat diartikan sebagai perubahan tren pasar secara keseluruhan. Pergerakan pasar kripto tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, likuiditas global, hingga perkembangan regulasi di berbagai negara.

“Arus dana ETF bukan hanya mencerminkan minat terhadap Bitcoin, tetapi juga menggambarkan bagaimana investor institusi mulai kembali meningkatkan eksposurnya terhadap aset berisiko setelah melalui periode ketidakpastian yang cukup panjang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *