Rupiah Terjun Bebas ke Rp18.111, Hadapi Tekanan dari Dalam dan Luar Negeri

Foto mata uang Rupiah bersanding dengan Dolar AS.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan yang signifikan pada perdagangan Selasa (28/7/2026), melanjutkan tren negatif sejak akhir pekan lalu. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka merosot 0,57 persen atau 102 poin ke posisi Rp18.111 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan data pasar spot, rupiah diperdagangkan di angka Rp18.069 per dolar AS pada pukul 09.33 WIB. Pelemahan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya. rupiah sudah terdepresiasi 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp18.009 per dolar AS.

Pendorong utama pelemahan rupiah berasal dari dalam negeri, yaitu pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang diumumkan pada akhir pekan lalu. Pasar merespons negatif kabar ini karena pergantian pucuk pimpinan bank sentral menciptakan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa pelemahan disebabkan oleh sentimen negatif investor yang merespons pengunduran diri gubernur BI.

Kekhawatiran yang lebih mendasar adalah isu independensi Bank Indonesia yang kembali menjadi sorotan. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rahman menilai, ketidakpastian terkait proses transisi kepemimpinan, serta kekhawatiran bahwa pengganti Gubernur BI nantinya memiliki kedekatan dengan pemerintah yang dapat memunculkan kembali persepsi negatif mengenai independensi BI, berpotensi meningkatkan premi risiko di pasar keuangan. Untuk sementara, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti telah ditetapkan sebagai Pejabat Gubernur Sementara dan berjanji untuk menjaga kontinuitas kebijakan serta secara aktif melakukan intervensi untuk melindungi rupiah.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) masih bertahan di level tertinggi dalam sebulan ini, di kisaran 101,48-101,55. Pelaku pasar tengah menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 28-29 Juli 2026.

Meskipun secara luas diperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 36,3 persen berdasarkan CME FedWatch Tool—angka yang meningkat tajam dibandingkan 16 persen pada sepekan sebelumnya. Untuk pertemuan September, pasar bahkan memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 81 persen. Prospek kebijakan The Fed yang lebih ketat ini masih dapat menjaga kekuatan dolar AS dan membatasi ruang penguatan rupiah.

Depresiasi rupiah yang sudah mencapai sekitar 8 persen sejak awal Januari 2026 menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia. Dari sisi perdagangan, pelemahan rupiah menjadi yang terdalam di antara mayoritas mata uang Asia pada hari ini, dengan depresiasi 0,55 persen. Pelemahan ini turut mempengaruhi pasar obligasi, di mana spread imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi negara AS (UST) tenor 10 tahun melebar menjadi 274 basis poin, mengindikasikan investor meminta premi risiko yang lebih tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian politik.

Infografis Rupiah
Infografis Rupiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *