Rupiah Melemah Tipis, Konflik Geopolitik Jadi Penyebabnya

Foto mata uang Rupiah bersanding dengan Dolar AS.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat atau USD, hari ini, Senin (20/7/2026), kembali melemah di pasar spot, bergerak di kisaran Rp 17.977–Rp 17.986 per USD. Angkanya turun sekitar 56–65 poin (0,31–0,36%) dibandingkan penutupan Jumat lalu di Rp 17.921/USD.

Yahoo Finance menampilkan Rp 17.939/USD. Kurs acuan Bank Indonesia menetapkan posisi tengah di Rp 17.944/USD, dengan kurs jual di Rp 18.033,72/USD dan kurs beli di Rp 17.854,28/USD. Bank-bank besar juga mencatat kurs jual yang sudah menembus Rp 18.000, seperti BCA Rp 18.005 (e-rate) dan Rp 18.040 (TT counter), serta Mandiri Rp 17.995 (special rate) dan Rp 18.000 (TT counter).

Pelemahan rupiah ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal. Geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah serangan berulang AS terhadap Iran, meningkatkan risiko perang regional dan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Tarif Tak Akan Naik, Pemerintah Fokus Perluasan Basis Pajak

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia menambah tekanan pada mata uang negara importir energi, termasuk Indonesia. Sentimen pasar global juga melemah akibat kekhawatiran valuasi semikonduktor dan fluktuasi arus modal asing, sehingga menekan selera risiko investor. Dari sisi domestik, ada kemungkinan yang diharapkan dari kebijakan BI berupa kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada RDG pekan depan untuk menjaga stabilitas rupiah.

Meski rupiah melemah, IHSG justru dibuka menguat 21,95 poin (0,36%) ke 6.197,48 , menunjukkan optimisme pasar saham di tengah tekanan kurs. Pelemahan rupiah berimplikasi pada sektor ekonomi: impor berpotensi tertekan karena biaya meningkat, sementara eksportir bisa diuntungkan dari kurs yang lebih tinggi.

Kondisi ini juga dapat mendorong masyarakat melakukan diversifikasi simpanan ke mata uang asing sebagai langkah proteksi. Secara keseluruhan, rupiah berada dalam fase pelemahan moderat yang mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap dinamika global, dengan arah pergerakan selanjutnya sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *