ASIAWORLDVIEW – Indonesia menegaskan tidak akan melakukan impor beras pada tahun 2026 meskipun ada potensi risiko produksi akibat fenomena cuaca El Niño. Pernyataan ini disampaikan oleh pejabat Kementerian Pertanian yang menekankan bahwa produksi beras nasional masih berada dalam tren positif, dengan proyeksi mencapai 28,71 juta ton pada periode Januari–September.
Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi, mulai dari distribusi lebih dari 80 ribu pompa air untuk membantu petani menghadapi kekeringan, peningkatan jaringan irigasi, hingga promosi varietas padi tahan kekeringan dengan masa tanam lebih singkat. Langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor, sejalan dengan prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat stok beras dalam negeri.
“Produksi beras nasional tetap berada pada tren positif, dengan produksi dari Januari hingga September diproyeksikan mencapai 28,71 juta ton,” kata Penasihat Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Produksi Pertanian, Hasil Sembiring, dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (10/8/2026).
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya pada awal bulan ini menyatakan bahwa produksi beras pada periode Januari–September diperkirakan mencapai 28,71 juta ton, naik 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Jadi, angka-angkanya sudah ada. Menurut saya, saya tidak berpikir kita akan mengimpor, karena angka yang saya ketahui masih lebih tinggi dibandingkan tahun 2025,” ia menambahkan.
Badan logistik negara Bulog memiliki stok beras sebesar 5,18 juta ton per 2 Juli, menurut data pemerintah. Indonesia telah bersiap menghadapi kondisi kekeringan yang terkait dengan El Niño dengan mendistribusikan lebih dari 80.158 pompa air kepada kelompok tani, kata Sembiring.
Pompa-pompa tersebut dimaksudkan untuk membantu petani mengambil air dari sumber yang tersedia, termasuk sungai kecil dan anak sungai di daerah yang terdampak kekeringan. Kementerian Pertanian juga telah meningkatkan jaringan irigasi untuk mengurangi kehilangan air dan memastikan pasokan yang tersedia digunakan secara efisien, tambahnya.
“Jadi, ini benar-benar persiapan yang baik karena pompa-pompa tersebut dapat digunakan untuk memompa air di mana pun air tersedia. Tentu saja, kita tidak bisa memompa jika tidak ada air, tetapi masih ada air di beberapa sungai kecil, dan di beberapa daerah kita masih bisa memompanya,” ujarnya.
Bagi petani padi, pemerintah sedang mempromosikan varietas yang tahan kekeringan dan tanaman dengan masa tanam yang lebih singkat. Beberapa varietas dapat dipanen dalam waktu sekitar 97 hingga 98 hari, dibandingkan dengan varietas konvensional yang membutuhkan waktu hingga 120 hari, kata Sembiring. Pemerintah juga menggunakan Kalender Tanam untuk membantu petani menyesuaikan jadwal penanaman berdasarkan pola cuaca.
