Ketua HIPPINDO Dorong Transformasi Ritel Indonesia, Fondasi Ekonomi Masa Depan

Budihardjo Iduansjah

ASIAWORLDVIEW – Peritel dan pelaku usaha bisa ikut membantu dalam perputaran perekonomian Indonesia. Apalagi jika barang atau jasa yang diperdagangkan terus digunakan masyarakat.

Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) bersama pemerintah mengajak masyarakat untuk semakin berbelanja di Indonesia, baik di merek lokal, merek global yang beroperasi di Indonesia, maupun UMKM. Menurutnya, gerakan ini bertujuan mengajak masyarakat menjadikan Indonesia sebagai destinasi belanja, baik melalui merek lokal, merek global yang berinvestasi dan beroperasi di Indonesia, maupun UMKM, sehingga setiap transaksi mampu menggerakkan perdagangan dalam negeri.

“Kami ingin menjadikan sektor ritel sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika masyarakat dan wisatawan semakin banyak berbelanja di Indonesia, manfaatnya akan dirasakan oleh seluruh ekosistem, mulai dari industri, pemasok, UMKM, pusat perbelanjaan, hingga jutaan tenaga kerja. Di tengah tantangan ekonomi global, pasar domestik harus menjadi kekuatan utama kita,” sebut Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budihardjo Iduansjah dalam ajang Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026

Ia juga menyatakan gelaran ini juga menjadikan masyarakat untuk tertarik dengan “Made Indonesia Shop Again”. Indonesia sebagai destinasi belanja utama.

Semangat ini bertujuan menggerakkan perdagangan dalam negeri, menarik wisatawan, memperkuat industri nasional, sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Konsep ini menempatkan ritel sebagai motor penggerak ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga pada penguatan ekosistem perdagangan domestik. Dengan menjadikan belanja di Indonesia sebagai gaya hidup dan kebanggaan, maka daya saing industri nasional akan meningkat, rantai pasok domestik semakin kokoh, dan kontribusi sektor ritel terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif akan semakin nyata.

Masa depan perdagangan Indonesia tidak hanya bergantung pada transaksi, tetapi juga pada knowledge, networking, dan penyusunan roadmap perdagangan yang jelas. Elemen ini menjadi fondasi penting agar sektor ritel mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, perilaku konsumen, serta dinamika global.

Baca Juga: Ritel Jadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Lewat Program HIPPINDO

“Knowledge memberikan wawasan dan inovasi, networking membuka kolaborasi lintas sektor, sementara roadmap menjadi arah strategis untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing perdagangan nasional,” ia menambahkan.

Hal ini memungkinkan pelaku usaha melakukan efisiensi biaya operasional sekaligus menciptakan value-added yang tidak hanya bergantung pada harga komoditas, melainkan pada kualitas pelayanan, personalisasi, dan pengalaman konsumen—sebuah aset tidak berwujud (intangible asset) yang kini menjadi penentu utama daya saing di tengah konvergensi digital.

“Kolaborasi ini menjadi krusial mengingat Indonesia menghadapi tantangan fragmentasi pasar akibat kondisi geografis kepulauan; tanpa networking yang terintegrasi, biaya logistik dan disparitas harga antarwilayah akan terus membebani struktur biaya produksi nasional,” ia menambahkan.

Networking bukan hanya tentang perluasan mitra bisnis, tambahnya, melainkan instrumen kebijakan untuk menciptakan economies of scope yang mendorong inklusivitas, di mana ritel besar dan kecil tidak lagi bersaing secara kanibalistik, melainkan saling mengisi melalui skema linkage vertikal dan horizontal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *