GooD Friends Buktikan Dunia Modeling Terbuka untuk Semua Usia

ASIAWORLDVIEW – Di balik keramaian sebuah ruang latihan yang kadang berpindah ke area atrium, ada cerita tentang sekelompok perempuan dewasa yang perlahan menemukan kembali ruang untuk berkarya. GooD Friends hadir bukan sebagai panggung instan, melainkan sebagai wadah bagi ibu-ibu yang ingin mengeksplorasi dunia fashion, khususnya melalui modeling.

Baju-baju yang mereka kenakan pun datang dari dukungan GooD Friends, sehingga penampilan di atas catwalk atau di depan kamera bukan sekadar soal gaya, tetapi juga tentang keberanian mencoba hal baru. Batasan usia nyaris tidak terasa. Di komunitas ini, ada peserta yang usianya sudah 75 tahun dan bahkan telah menjalani wisuda sebanyak empat kali.

“Usia itu tidak mencerminkan energinya. Tetap hadir, tetap berlatih, dan tetap percaya bahwa langkah kecil di dunia modeling bisa menjadi cara untuk merayakan hidup. Visi GooD Friends sendiri cukup jelas: mengangkat wastra melalui model matur. Model matur adalah model dewasa yang tidak selalu diterima oleh semua desainer,” sebut Sri Kasihati, Kepala Sekolah Goofriends kepada Asia World View di Yogyakarta.

Di sinilah GooD Friends mengambil peran. Lewat tagline bahwa segala kekurangan akan menjadi suatu kelebihan, komunitas ini membangun cara pandang yang lebih terbuka terhadap tubuh, usia, dan pengalaman hidup. Tidak ada keharusan untuk langsing atau tinggi.

“Mbak Asri, misalnya, bukan sosok yang bertubuh langsing, tetapi ia bisa lulus dan tampil karena keinginan serta kemampuannya. Di GooD Friends, yang paling penting adalah percaya diri dan kemauan untuk terus belajar,” ia menambahkan.

Baca Juga: GoO Ninks, Gerakan Budaya di Balik Label Fashion

Cerita para pesertanya pun beragam, tetapi sering kali bertemu pada satu titik yang sama: cita-cita lama yang belum sempat tersampaikan. Salah satu narasumber mengaku dulu hanya senang berfoto, punya keinginan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak ada wadah, tidak ada jalan. Setelah mengenal sosok yang kemudian membimbingnya, ia diberi tempat, diberi ruang, dan dipercaya menjadi kepala sekolah.

Dari situ, semuanya dimulai. Awalnya, ia mengumpulkan mama-mama yang senang berfoto bersama. Dari situ ia melihat ada yang pandai bergaya, ada yang punya kepekaan visual, dan ada yang menyimpan potensi besar yang belum tergarap. Mereka lalu dikumpulkan, dibuatkan kelas, dibentuk semacam sekolah, dan dicarikan guru. Jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 120 orang.

Usianya dewasa semua, rata-rata di atas 30 tahun. Hanya satu orang yang berusia 30, lalu ada 39 dan 38 tahun, yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Sisanya berusia di atas 40 tahun. Bahkan, angkatan sebelumnya ada peserta berusia 72 tahun, dan kini sudah 75 tahun. Peserta lain banyak yang berusia 60-an. Semua ini menunjukkan bahwa dunia modeling tidak harus menjadi ruang eksklusif bagi usia muda atau tubuh tertentu. GoFriend membuktikan bahwa pengalaman, kepercayaan diri, dan kemauan bisa menjadi modal yang sama pentingnya.

Perjalanan komunitas ini tidak dibangun dalam semalam. Berawal dari rasa suka, keyakinan, dan sinergi, mereka berkumpul hingga mencapai 14 kelas. Kini jumlahnya bertambah menjadi 18 kelas. Di lokasi yang sedang digunakan, ada tiga kelas, dan di Dekranasda ada satu kelas. Latihan biasanya dilakukan di ruangan, kadang di area atrium, dan kadang di lantai atas untuk membuat konten yang lebih bagus. GooD Friends juga menjalin kerja sama dengan Asma. Coach yang terlibat bukan sembarang orang.

Nining Soewarto sebagai desainer sekaligus pendiri sekolah model ini menjelaskan, wanita-wanita dewasa ini ternyata paham dunia modelling. Bahkan berprestasi dan menjadi juara ikut mengajar.

“Ada juga pengajar muda berusia 30 tahun, bahkan 22 tahun, yang sudah punya kemampuan untuk membimbing peserta. Ini menunjukkan bahwa ekosistem GoFriend tidak hanya memberi ruang bagi model matur, tetapi juga membangun siklus belajar yang saling menguatkan. Para peserta tidak hanya belajar berjalan di catwalk, tetapi juga belajar kepercayaan diri, disiplin, dan cara menampilkan diri dengan penuh kesadaran,” jelasnya.

Agenda terdekat pun sudah menanti. Untuk acara Jogja Rendezvous yang akan digelar pada 10 Oktober, ada dua kelas yang akan tampil, yaitu kelas lanjutan dan kelas adik. Kelas lanjutan berisi delapan orang, antara lain Mbak Nur Ayu, Mbak Herdi, Titi Huang, Mbak Yanti, Mbak Yohana, Mbak Nani, dan Mbak Sri Kasihati.

Sementara kelas adik berisi sekitar 12 orang. Mereka bukan hanya berlatih untuk tampil, tetapi juga mempersiapkan diri menjadi bagian dari sebuah perayaan yang lebih besar: perayaan atas keberanian perempuan dewasa untuk tetap berkarya, tetap belajar, dan tetap menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk bersinar.

“Di GooD Friends, program yang dijalankan mencakup pembentukan kelas, latihan rutin, produksi konten, hingga kolaborasi dengan pihak lain. Semua itu dirangkai bukan untuk sekadar mengejar sorotan, melainkan untuk membangun ruang aman bagi perempuan yang ingin mengekspresikan diri melalui fashion dan modeling,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *