Ekspor Indonesia Naik 4,43%, Surplus Perdagangan Terjaga

Kegiatan ekspor dan impor di pelabuhan peti kemas di Indonesia.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Indonesia berhasil mencatat surplus neraca perdagangan barang sebesar USD3,70 miliar sepanjang Januari–Juli 2026, menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Surplus ini terjadi karena ekspor kumulatif mencapai USD167,03 miliar, naik 4,43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara impor tumbuh lebih tinggi hingga 19,94 persen menjadi USD163,33 miliar. Sektor industri manufaktur menjadi kontributor utama ekspor dengan nilai USD137,26 miliar, diikuti pertambangan dan sektor lainnya sebesar USD19,60 miliar, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar USD3,15 miliar.

“Ekspor kumulatif selama periode tersebut mencapai USD167,03 miliar, naik 4,43 persen secara tahunan dari USD159,95 miliar pada periode yang sama tahun lalu,” Wakil Kepala BPS Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono mengatakan, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Ekspor Sawit, Tekstil, dan Karet Indonesia Masuk Pasar UE Tanpa Tarif

Pada Juli 2026 saja, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD120 juta, dengan ekspor naik 6,05 persen menjadi USD26,22 miliar, sementara impor melonjak 27,02 persen menjadi USD26,09 miliar. Ekspor nonmigas tetap didominasi oleh manufaktur senilai USD21,76 miliar.

Sedangkan impor didominasi oleh bahan baku dan barang setengah jadi sebesar USD18,76 miliar. Data ini menegaskan bahwa meski impor meningkat tajam, kinerja ekspor yang solid, terutama dari sektor manufaktur, mampu menjaga surplus perdagangan Indonesia tetap positif. Sementara itu, impor selama Januari-Juli 2026 mencapai USD163,33 miliar, meningkat 19,94 persen secara tahunan.

Berdasarkan kegunaan, impor didominasi oleh bahan baku dan barang setengah jadi sebesar USD116,70 miliar, diikuti oleh barang modal sebesar USD32,46 miliar dan barang konsumsi sebesar US$14,16 miliar.

“Industri manufaktur tetap menjadi penyumbang terbesar bagi ekspor non-minyak dan gas Indonesia pada bulan Juli, dengan nilai USD21,76 miliar, diikuti oleh pertambangan sebesar US$3,10 miliar serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar USD570 juta,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *