ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada hari Jumat, (14/8/2026) menunjukkan pergerakan yang dinamis. Perdagangan dibuka dengan sentimen negatif. Pada pembukaan, rupiah terdepresiasi 0,08% ke level Rp17.875 per dolar AS, ditandai dengan pembukaan yang melemah namun berhasil berbalik arah dan ditutup menguat di akhir perdagangan.
Namun, pelemahan ini tidak bertahan lama. Hanya dalam waktu 15 menit pertama, rupiah berhasil berbalik arah ke zona hijau. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap sejumlah sentimen penting, baik dari dalam negeri maupun global, yang pada akhirnya menjadi fondasi bagi posisi rupiah di akhir pekan.
Penguatan rupiah terutama didorong oleh rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk bulan Juli yang lebih rendah dari perkiraan pasar menjadi katalis utama. Data ini memperkuat keyakinan bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda, yang secara langsung menurunkan ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 pun turun drastis menjadi sekitar 34,8% . Hal ini melemahkan daya tarik dolar AS dan memberikan ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Akibat data inflasi yang mereda, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,08% ke level 99,887. Pelemahan ini secara langsung memberikan ruang apresiasi bagi rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Sidang Tahunan MPR dan penyampaian Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto serta Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Pelaku pasar mencermati dengan seksama asumsi-asumsi makroekonomi yang disampaikan, seperti target pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, dan strategi fiskal pemerintah. Kepastian arah kebijakan fiskal ke depan menjadi sentimen penting yang turut menopang pergerakan rupiah.
Meskipun menguat, ruang apresiasi rupiah masih dibatasi oleh beberapa risiko. Ketegangan geopolitik yang berlanjut di Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan konflik Iran dan penutupan Selat Hormuz, berpotensi mempertahankan harga energi di level tinggi. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri karena dapat menekan inflasi dan pada akhirnya membatasi penguatan rupiah.

