ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD, Kamis (6/82026), kembali menunjukkan performa positif dengan menguat untuk hari ketiga secara berturut-turut. Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah berhasil menembus level psikologis Rp18.000 dan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.913 per dolar AS pada sesi pembukaan.
Meskipun terdapat variasi tipis antar sumber, seluruh data mengonfirmasi bahwa rupiah berhasil mempertahankan tren penguatan yang dimulai sejak awal pekan. Penguatan ini melanjutkan kenaikan tajam pada perdagangan Rabu (5/8), di mana rupiah ditutup menguat 94 poin atau 0,52% ke level Rp17.933 per dolar AS.
Katalis utama penguatan rupiah datang dari eksternal, yaitu meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa AS dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut dan memulihkan kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal komersial.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Optimisme ini mendorong penurunan harga minyak mentah dunia secara signifikan. Harga minyak WTI yang minggu lalu ditutup di level US$86 per barel, kini turun ke US$74,60 per barel. Penurunan harga minyak ini meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan meningkatkan selera risiko (risk-on) di pasar global.
Kinerja Ekonomi Domestik yang Solid: Dari sisi domestik, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2026 yang lebih kuat dari perkiraan turut menjadi penopang rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year) pada triwulan II-2026. Angka ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya hanya memprediksi pertumbuhan sekitar 5,1%. Kinerja ekonomi yang solid ini menjaga minat investor terhadap aset-aset domestik.
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga kompak menguat terhadap dolar AS pada pagi ini. Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar yakni 0,36-0,41%, diikuti dolar Taiwan yang menguat 0,27%, ringgit Malaysia yang menguat 0,13%, baht Thailand yang menguat 0,11-0,13%, serta peso Filipina, yen Jepang, yuan China, dan dolar Singapura yang juga ikut menguat.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mencerminkan nilai tukar dolar terhadap mata uang utama dunia, berada di level 99,66, turun tipis dari sehari sebelumnya di 99,67. Pelemahan dolar AS ini memberikan ruang bagi penguatan rupiah dan mata uang lainnya.
Analis memproyeksikan rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Meskipun demikian, beberapa analis mengingatkan bahwa meskipun PDB kuartal II lebih kuat, hal ini tidak berarti pertumbuhan akan kembali kuat ke depannya. Namun, apabila harga minyak terus turun, hal ini akan meredakan tekanan pada fiskal dan rupiah, serta bisa mendukung pertumbuhan ke depannya.

