ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD, Rabu (5/8/2026), berhasil bangkit dan menguat signifikan, membalikkan pelemahan yang terjadi pada hari sebelumnya. Di tengah sentimen positif dari dalam dan luar negeri, rupiah berhasil menembus level psikologis Rp18.000 dan bergerak di kisaran Rp17.945 hingga Rp17.974 per dolar AS pada sesi pembukaan.
Rilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) AS yang lebih lemah dari perkiraan pasar memberikan tekanan pada dolar AS. Data lowongan kerja yang menurun ini memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin akan melonggarkan kebijakan moneternya, sehingga melemahkan daya tarik greenback.
Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi katalis positif. Muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang vital bagi perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Optimisme ini mendorong selera risiko (risk-on) global. Kondisi tersebut juga memperkuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di zona hijau terhadap dolar AS. Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar (0,48%), diikuti oleh rupiah (0,46%), dolar Taiwan (0,43%), dan peso Filipina (0,41%).
Meskipun rupiah menguat, para analis memperingatkan bahwa penguatan ini berpotensi terbatas. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati (wait and see) menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia (Produk Domestik Bruto/PDB) kuartal II-2026 yang dijadwalkan rilis siang hari itu. Pasar memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi domestik akan melambat dibandingkan periode sebelumnya, sehingga hasil data ini akan menjadi katalis penting bagi pergerakan rupiah selanjutnya.

